Image Hosted by UploadHouse.com

Apakah Tuhan Menghukumku...???

on Sabtu, 11 April 2009


Ibrani 9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

“Masa mudaku penuh dengan kerja keras dan tantangan. Hampir setiap hari kuisi dengan kegiatan yang menyenangkan sampai bisa dibilang aku cukup sukses dengan memiliki sebuah tempat kursus dengan jumlah murid ratusan. Setiap hari kerjaku hanya mengurus tempat kursus ini dan menganggap murid-murid itu sebagai anak-anakku sendiri yang memang aku tidak miliki karena aku memang tidak menikah. Hari-hari itu sangat menyenangkan bagiku. Tidak ada yang lebih membahagiakanku selain ketika aku bisa bersama mereka di tempat kerjaku itu.

Tapi sekarang, semua itu Cuma kenangan indah. Aku yang sekarang sangat berbeda dengan aku yang dulu. Aku yang energik, aku yang dengan segala passionku mengajar anak-anak itu, aku yang dengan gagahnya berdiri di depan kelas dan berjalan kesana kemari mengatur tempat kursus itu, aku yang bisa bolak-balik ke luar kota, itu semua hanya masa lalu sekarang. Semua itu sudah berlalu sejak aku mengalami satu penyakit tulang yang cukup menggangguku. Tulang belakangku membengkok dan kini aku tidak bisa lagi berdiri dengan tegak. Dan rasa sakit yang kuderita itu semakin terasa dengan menghilangnya percaya diriku untuk bertemu dengan orang banyak. Aku merasa kesepian, sendirian dan ditinggalkan. Atau tepatnya, aku yang meninggalkan semuanya karena aku tidak sanggup lagi menghadapi orang-orang, bahkan semua saudaraku yang mau menjengukku pun kutolak dengan berbagai alasan. Padahal aku yakin mereka tidak akan menghina kondisiku, tapi aku sendiri yang tidak mau mendengar dan melihat rasa kasihan itu muncul di wajah mereka ketika mereka melihat kondisiku.

Aku jadi sering bertanya-tanya, apakah memang Tuhan menghukumku karena apa yang kulakukan dulu? Apakah hal ini merupakan hukuman karena dosa-dosaku? Jujur aku memang tidak terlalu menomorsatukan Tuhan ketika aku sukses saat itu. Bukan aku lupa pada Tuhan, tapi karena aku sangat sibuk sehingga tidak punya waktu banyak untuk itu. Dan aku juga menyadari bahwa pekerjaan dan karirku nomor satu bagiku. Aku merasa bisa melakukannya sendirian tanpa bantuan Tuhan. Tapi sekarang, semuanya itu sirna. Saat ini aku merenung banyak hal, dan mulai berpikir-pikir apakah masih ada kesempatan bagiku untuk kembali kepada Tuhan. Apakah layak aku menerima mukjizat dari Tuhan? Apakah mungkin bagiku untuk menerima kasihNya Tuhan? Hal itu terus kupikirkan dan membuatku mencari Tuhan hari-hari ini.

Namun dibalik semua pertanyaanku, sekalipun aku memang belum mendapatkan jawabannya sekarang, aku tetap menaruh harapanku pada Tuhan. Aku percaya dengan kebaikan Tuhan, dan aku benar-benar menantikan mukjizat itu boleh terjadi dalam hidupku. Apalagi saat ini, bisa dikatakan aku hampir tidak punya apa-apa lagi. Tabunganku pun kalau dihitung hanya cukup untuk hidup beberapa bulan lagi saja. Aku tidak punya penghasilan sedikitpun karena kondisiku tidak memungkinkan aku untuk berdiri dan mengajar lagi seperti dulu.

Tapi ketika aku mendengar bahwa kasih Tuhan itu tidak berubah, dulu sekarang dan selama-lamanya, imanku bangkit lagi. Aku mau menaruh harapanku pada Dia, yang pernah kulupakan. Aku minta ampun buat semua yang terjadi di masa lampau. Dan aku mau melangkah maju ke depan menantikan pemenuhan janji Tuhan bagiku. Saat ini memang belum terjadi apa-apa, tapi aku percaya Tuhan akan menjamah hidupku dan menyembuhkan aku. Aku sedang menantikan kolam Betesda itu terguncang, dan aku akan mendapatkan mukjizat itu. Terus bersama Tuhan, itu yang akan kulakukan. Aku takkan pernah lagi meninggalkan Dia.”

Kesaksian yang sangat mengharukan aku terima beberapa malam yang lalu dari seorang ibu yang merupakan pendengar setiaku di radio. Satu kejutan bahwa ibu ini bisa belajar menerima keadaannya yang sekarang. Pasti tidak mudah. Ibu ini dulunya bisa berjalan dengan tegak, normal dan sangat energik. Aku tahu itu dari penuturannya tentang kehidupannya. Tapi ketika itu, ia sama sekali tidak menyadari bahwa hidupnya sudah terlalu disibukkan banyak hal yang membuat dirinya akhirnya lupa untuk mendengarkan suara Tuhan dalam hidupnya.

Terkadang Tuhan ijinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita, sekalipun kelihatannya buruk dan sama sekali tidak menyenangkan, tapi percayalah bahwa semuanya itu pasti untuk kebaikan kita juga. Memang jika kita mendengar kondisi ibu ini, pastilah semua akan mengernyitkan dahi dan berkata, kok bisa yah sampai seperti itu? Dan mungkin ada yang mulai menyalahkan Tuhan atas semua yang terjadi.

Tapi jangan terburu-buru menyalahkan Dia. Sama seperti ibu itu, beberapa malam yang lalu bertanya pada saya, apa mungkin Tuhan menghukum dia karena segala kesalahannya? Saya dengan tegas katakan, ‘tidak!’. Tuhan tidak menghukum ibu. Untuk apa dia mati di kayu salib? Untuk menanggung semua hukuman yang seharusnya kita terima. Jadi, Dia tidak menghukum ibu ini. Tapi....Tuhan bisa ijinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita.

Anda ingat Ayub? Kalau kita baca beberapa pasal pertama dalam Kitab Ayub, kita bisa melihat betapa salehnya Ayub. Tidak ada kesalahan apapun yang mengharuskan dia mengalami segala petaka itu. Tapi apa yang terjadi? Allah ijinkan sesuatu terjadi melalui pekerjaan iblis, tujuannya adalah untuk menguji hati Ayub yang sebenarnya. Dan memang Ayub memiliki iman yang luar biasa. Sekalipun dia mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, yang tidak mungkin orang biasa akan tahan, toh akhirnya dia lulus juga. Dan di penghujung ujiannya, Allah melipatgandakan segala yang dimilikinya dulu itu.

Ya, dalam hidup ini akan terdapat beberapa ujian bagi kita. Tapi ujian itu diberikan supaya kita naik peringkat. Dan jika Tuhan ijinkan pencobaan itu datang, Dia akan mengijinkan semuanya itu sebatas yang kita mampu. Asal kita terus berharap, dan bertahan dengan setia, maka kita pasti akan mampu melewati semuanya itu dengan baik dan penuh kemenangan.

Ibu ini juga bertanya tentang hukum tabur tuai. Ya, tentu saja apa yang kita alami hari ini bisa jadi merupakan akibat apa yang kita kerjakan di masa lampau. Bisa jadi selama masa yang lalu itu, ibu ini saking semangatnya bekerja sehingga lupa makan, lupa menjaga kesehatan dan lupa istirahat, sehingga akhirnya kondisinya menjadi seperti ini. Memang sangat menyedihkan. Tapi ya, itulah yang terjadi. Mungkin Tuhan sudah sering mengingatkan dia di masa lampau, tapi karena ia tidak punya waktu untuk berdua dengan Tuhan sehingga ia tidak menyadari peringatan itu. Dan inilah akibat dari kelalaiannya itu.

Sama seperti ketika para murid bertanya pada Tuhan Yesus tentang kejadian seorang buta di dalam Perjanjian Baru, yang bertanya, karena dosa siapakah maka orang itu menjadi buta? Dan Tuhan menjawab, hal itu tidak ada kaitannya dengan dosa, tapi supaya nama Tuhan dipermuliakan melalui peristiwa itu. Maka saat inipun saya hanya bisa mengatakan bahwa biarlah melalui setiap peristiwa yang boleh kita alami, nama Tuhan dipermuliakan.

Kalaupun memang seperti ibu tadi, dia merasa ada begitu banyak dosa dan kesalahan yang dia lakukan, jangan takut untuk datang pada Tuhan dan minta ampun. Dia adalah Allah yang setia dan adil , setiap kali kita datang untuk meminta ampun, maka Dia akan mengampuni dosa-dosamu. Jadi, jangan ragu untuk melangkah ke hadapanNya dan melakukan pertobatan itu. Dia adalah “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.”Yesaya 43 : 25

Dan ketika engkau sudah menyelesaikannya di hadapan Tuhan, bertekadlah untuk tidak melakukannya lagi untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan jangan mau diperdayakan iblis yang selalu berusaha mengingatkan kita kembali pada kesalahan masa lampau itu seakan-akan Tuhan belum mengampuninya. Ketika engkau sungguh-sungguh bertobat, maka Dia benar-benar sudah mengampunimu.

Kesaksian ini sengaja saya tuliskan kembali untuk mengajak kita semua yang membaca untuk bisa belajar sesuatu tentang kasih Tuhan. Mari kita terus bekerja dengan tidak lupa menyediakan waktu bagi Tuhan. Dia begitu rindu untuk bisa berkomunikasi dengan anda dan saya. Jangan lupakan Dia dalam segala pekerjaanmu. Kesuksesan yang anda miliki itu tidak akan pernah sampai pada anda kalau bukan Dia yang memberinya. Jadi, selagi masih sehat, selagi masih ada waktu, selagi semuanya masih berjalan lancar dan baik, berikan waktu dan pikiranmu juga untuk Tuhan. Jangan menunggu sampai semuanya berlalu, baru mencari Tuhan. Ijinkan Dia menjadi counselor mu pribadi setiap hari. Amin.

By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

0 komentar:

Posting Komentar