
Si Joni senang jajan rohani di berbagai persekutuan doa. Dia mendengar bahwa baptisan roh adalah berkat kedua (sesudah keselamotan) bagi orang percaya yang ditandai oleh kesanggupon berbahasa lidah atau berbahasa roh. Bahasa roh bisa dan harus dimiliki setiap orang percaya. Bahkan, dia pernah menjumpai orang yang "mengajarkan bahasa lidah."
Berbagai Pengalaman Berbahasa Roh
Petunjuk pertama tentang bahasa roh terdapat dalam Markus 16:17. Salah satu tanda yang menyertai orang percaya adalah berbicara dalam bahasa baru. Hal ini terwujud pada hari Pentakosta. Pada hari itu, orang-orang percaya yang sedang berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem tiba-tiba dipenuhi Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa lain (Kisah Para Rasul 2: 1 -1 1).
Ada dua catatan penting. Pertama, bahasa roh dalam kasus si Joni tidak dimengerti artinya, sehingga si pemakai menjadi eksklusif. Sedangkan bahasa roh pada hari Pentakosta dimengerti artinya oleh semua pendengar, sehingga bersifat mempersatukan orang-orang dengan bahasa yang berbeda. Kedua, tidak ada catatan apakah ketiga ribu orang yang menjadi percaya setelah mendengar khotbah Petrus juga berbahasa roh.
Dalam Kisah Para Rasul pasal 8, orang-orang percaya yang dibaptis oleh Filipus di Samaria ternyata belum menerima Roh Kudus. Mereka baru menerima Roh Kudus setelah Rasul Paulus dan Rasul Yohanes menumpangkan tangan ke atas diri mereka. Ayat 18 mengatakan bahwa Simon melihat peristiwa itu. Pertanyaannya, tanda apa yang dilihat oleh Simon? Kemungkinan besar, Simon melihat (atau mendengar) bahasa roh. Tidak jelas apakah bahasa tersebut bisa dimengerti atau tidak.
Saat Rasul Petrus berkhotbah di rumah Kornelius dalam Kisah Para Rasul pasal 10, orang-orang (bukan Yahudi) yang mendengar khotbahnya barkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah (ayat 46). Orang-orang Yahudi yang menyertai Rasul Petrus melihat hal ini sebagai tanda pencurahan Roh Kudus ke atas bangsa-bangsa lain. Pada waktu mempertanggungjawabkan baptisan yang dilakukannya, Rasul Petrus mengatakan bahwa peristiwa tersebut sama seperti peristiwa pada hari Pentakosta ( 11: 15). Kemungkinan besar, bahasa roh yang terjadi saat itu dapat dimengerti.
Setelah mendengar pemberitaan Rasul Paulus tentang Tuhan Yesus, sekitar dua belas "murid" di Efesus memberi diri dibaptis dalam nama Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan, Roh Kudus turun dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kisah Para Rasul 19: 1 -5). Tidak jelas apakah bahasa roh di sini dimengerti atau tidak.
Pemakaian Bahasa Roh
Bahasa roh merupakan salah satu dari sembilan karunia roh yan didaftarkan dalam I Korintus 12:8- 10. Dalam pasal 12 ini ditekankan bahwa setiap orang percaya memiliki karunia khusus yang berbeda satu dengan yang lain. Bentuk retoris dalam I Korintus 12:29-30 "Adakah mereka semua ... berkata-kata dalam bahasa roh, menunjukkan bahwa tidak semua orang yang telah dibaptis Roh Kudu (12:13) bisa berbahasa roh. Ditekankan juga bahwa setiap karunia dimaksudkan agar dipakai dalam kebersamaan sebagai satu tubuh Kristus untuk membangun jemaat, bukan untuk penonjolan diri.
Dalam I Korintus 14, dijelaskan bahwa karunia bahasa roh tidak lebih superior (tinggi, terhormat, istimewa) dibandingkan karunia lain. Bahkan, karunia ini kurang berharga dibandingkan karunia bernubuat, sebab karunia ini hanya bermanfaat untuk membangun diri sendiri, bukan membangun jemaat. Bahasa roh hanya bermanfaat bila ditafsirkan (ayat 5). jangan berpikir seperti anak-anak-anak yang mementingkan diri sendiri, melainkan seperti orang dewasa (ayat 20). Jelaslah, bahwa bahasa roh yang dimaksudkan dalam I Korintus ini adalah bahasa yang tidak dimengerti.
Mengapa banyak peristiwa dalam Kisah Para Rasul yang disertai pemberian bahasa roh? Dalam Kisah Para Rasul pasal 2, bahasa roh merupakan tanda dimulainya suatu era baru, yaitu berdiamnya Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Dalam pasal 8, bahasa roh menandai penerimaan Allah terhadap orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi. Dalam pasal 10, bahasa roh menjadi tanda (terutama bagi orang Yahudi yang menemani Rasul Petrus) bahwa karunia Roh Kudus juga dimaksudkan bagi bangsa bukan Yahudi. Dalam pasal 19, karunia bahasa roh mengesahkan berita Rasul Paulus: Bertobat saja tidak cukup. Orang yang bersangkutan harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Ayat kunci untuk memahami pemanfaatan bahasa roh adalah I Korintus 14:22, "Karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman." Siapakah orang yang tidak beriman dalam kisah Para Rasul? Orang Yahudi! Tanpa tanda bahasa roh, mereka sulit mempercayai otoritas para rasul pada peristiwa Pentakosta. Tanpa tanda bahasa roh, mereka sulit mempercayai bahwa keselamatan dimaksudkan juga bagi orang Samaria dan bangsa-bangsa bukan Yahudi.



















2 komentar:
Ada banyak teologi mengenai bahasa Roh.Ada perbedaan antara pandangan protestan maupun kharismatik. Tetapi mari kita kembali kepada apa yang alkitab saksikan. Saya percaya bahwa bahasa Roh itu ada, karena alkitab mengatakannya. Tetapi perlu diingat dan dicamkan..bahwa bahasa Roh itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Jadi tidak bisa dipaksakan apalagi dipelajari seperti ada aliran-alairan Roh Kudus yang muncul saat ini.Karena Iblis dapat meniru pekerjaan Roh Kudus, karena Iblis dapat menyamar seperti malaikat terang.Jadi mari kita kembali kepada ajaran yang sehat dan benar sehingga jiwa kitapun sehat dalam mengiring dan melayani Tuhan. Tuhan memberkati
Regards,
Sahabat Gembala
Saya seorang Yahudi dan saya beriman akan Adonai Eloheinu, Bapa Kami, Raja kami. Saya tidak setuju dengan postingan bagian terakhir yang menyatakan orang Yahudi tidak percaya akan keselamatan orang-orang bukan Yahudi. Kami meyakini anda semua orang Kristen yang benar dan setiap bangsa dan umat yang benar berdasarkan 7 hukum Nuh akan diselamatkan pada hari kebangkitan! Kami tidak memonopoli surga sebagai tempat yang eksklusif bagi orang Yahudi saja
Posting Komentar