
Mazmur 12:7 Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.
Banyak orang berkata menanti adalah pekerjaan yang paling membosankan. Apa lagi menanti janji yang tidak pasti. Bagi orang yang tidak menyerahkan kepercayaannya sepenuhnya kepada Tuhan, janji Tuhan adalah janji yang tidak pasti. Tetapi bagi kita yang menyerahkan kepercayaan kita sepenuhnya kepada Tuhan, janji Tuhan adalah janji yang pasti. Namun untuk menunggu kegenapan janji Tuhan dibutuhkan kesabaran dan kesetiaan. Kesabaran dan kesetiaan tidak dapat dibuktikan dalam waktu singkat. Tidak seperti kebaikan, kebaikan dapat dilihat orang dalam waktu singkat. Orang yang tadinya jahat bisa tiba-tiba drastis berubah 180 derajat karena pertobatan. Setelah bertobat, dia akan menjadi baik. Namun tidak sama halnya dengan kesabaran dan kesetiaan, ini hanya dapat dibuktikan oleh waktu. Waktulah yang dapat membuktikan apakah seseorang itu sabar/setia atau tidak. Orang yang baik belum tentu sabar dan setia, tetapi orang yang setia sudah pasti adalah orang yang baik.
Dalam Alkitab, kita banyak menemukan janji-janji Tuhan. Untuk menerima janji-janji Tuhan itu maka harus ada pengharapan. Pengharapan bahwa suatu waktu Tuhan akan menepati janji-Nya. Pengharapan akan membuat kita mampu untuk sabar dan setia dalam menanti janji-janji Tuhan itu.
Roma 8:24-25 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
Saudaraku, ayat ini menjelaskan bahwa pengharapan berkaitan dengan suatu hal yang tidak dilihat. Janji adalah suatu hal yang saat ini belum menjadi nyata, artinya saat ini kenyataannya belum dapat dilihat. Namun didalam janji ada kekuatan, yaitu kekuatan untuk menantikannya dengan tekun.
Saudaraku, Abraham adalah orang yang sabar dan setia dalam menantikan janji Tuhan. Kita perhatikan ayat dibawah :
Roma 4:18-21 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.
Secara logika, Abraham sudah tidak punya dasar pengharapan lagi untuk memiliki anak dari perjanjian Tuhan karena dia sudah tua, umurnya sudah hampir 100 tahun dan Sara istrinya, sudah mencapai 75 tahun. Namun Abraham tetap meletakkan pengharapannya kepada Tuhan. Dia meyakini Tuhan pasti tidak akan pernah ingkar janji. Bahkan dia meyakini bahwa Tuhan berkuasa untuk melaksanakan apa yang di janjikan-nya itu.
Saudaraku, apa janji Tuhan yang sedang saudara nantikan saat ini dan sudah berapa lama saudara menantikan-Nya? Apakah saudara menantikan kehadiran seorang anak yang sudah lama saudara tunggu-tunggu? Atau saudara sedang menantikan janji Tuhan dalam pemulihan hidup, pemulihan ekonomi, pemulihan kesehatan dan lain sebagainya. Lihat, Abraham menanti dengan sabar walaupun sudah tidak ada alasannya untuk bersabar. Apa sebenarnya yang ingin Tuhan lihat sehingga harus begitu lama baru Tuhan jawab janji-Nya itu?. Tuhan ingin melihat kesetiaan Abraham. Dan ternyata benar, waktu telah membuktikan kesetiaan Abraham. Walaupun secara fisik Abraham sudah tidak mungkin lagi punya anak tapi dia tetap memiliki iman bahwa Tuhan sanggup melakukan apa yang dijanjikan-Nya itu.
Saudaraku, pengharapan bukan saja butuh kesetiaan, tetapi juga butuh iman. Pengharapan tanpa kesetiaan tidaklah sempurna demikian pula kesetiaan tanpa iman.
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Pengharapan yang sempurna adalah pengharapan yang di sertai dengan iman. Dengan iman kita melihat bahwa kita akan memperoleh apa yang kita harapkan tersebut. Namun satu hal jangan lupa, Iman yang sempurna adalah iman yang disertai dengan penyerahan. Yang dimaksud dengan penyerahan adalah bahwa kita menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Memang Tuhan telah menyatakan janji-Nya, namun kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk segera menepati janji-Nya biarlah kita menyerahkan sesuai dengan waktunya Tuhan. Kita boleh berdoa men-claim janji Tuhan, namun di akhir doa kita biarlah kita berkata “Biarlah kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendakku” itulah salah satu contoh iman yang disertai dengan penyerahan.
Oleh sebab itu saudaraku, biarlah kita menantikan kegenapan janji Tuhan dengan sabar. Jangan pernah berhenti berharap pada Tuhan. Mari kita teladani iman Abraham yang menantikan dengan sabar janji Tuhan walaupun secara fisik dia sudah tidak punya pengharapan lagi. Pengharapan yang disertai dengan iman dan penyerahan akan menghasilkan muzizat. Tuhan Yesus memberkati. Amin

Si Joni senang jajan rohani di berbagai persekutuan doa. Dia mendengar bahwa baptisan roh adalah berkat kedua (sesudah keselamotan) bagi orang percaya yang ditandai oleh kesanggupon berbahasa lidah atau berbahasa roh. Bahasa roh bisa dan harus dimiliki setiap orang percaya. Bahkan, dia pernah menjumpai orang yang "mengajarkan bahasa lidah."
Berbagai Pengalaman Berbahasa Roh
Petunjuk pertama tentang bahasa roh terdapat dalam Markus 16:17. Salah satu tanda yang menyertai orang percaya adalah berbicara dalam bahasa baru. Hal ini terwujud pada hari Pentakosta. Pada hari itu, orang-orang percaya yang sedang berkumpul di sebuah rumah di Yerusalem tiba-tiba dipenuhi Roh Kudus dan berkata-kata dalam bahasa lain (Kisah Para Rasul 2: 1 -1 1).
Ada dua catatan penting. Pertama, bahasa roh dalam kasus si Joni tidak dimengerti artinya, sehingga si pemakai menjadi eksklusif. Sedangkan bahasa roh pada hari Pentakosta dimengerti artinya oleh semua pendengar, sehingga bersifat mempersatukan orang-orang dengan bahasa yang berbeda. Kedua, tidak ada catatan apakah ketiga ribu orang yang menjadi percaya setelah mendengar khotbah Petrus juga berbahasa roh.
Dalam Kisah Para Rasul pasal 8, orang-orang percaya yang dibaptis oleh Filipus di Samaria ternyata belum menerima Roh Kudus. Mereka baru menerima Roh Kudus setelah Rasul Paulus dan Rasul Yohanes menumpangkan tangan ke atas diri mereka. Ayat 18 mengatakan bahwa Simon melihat peristiwa itu. Pertanyaannya, tanda apa yang dilihat oleh Simon? Kemungkinan besar, Simon melihat (atau mendengar) bahasa roh. Tidak jelas apakah bahasa tersebut bisa dimengerti atau tidak.
Saat Rasul Petrus berkhotbah di rumah Kornelius dalam Kisah Para Rasul pasal 10, orang-orang (bukan Yahudi) yang mendengar khotbahnya barkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah (ayat 46). Orang-orang Yahudi yang menyertai Rasul Petrus melihat hal ini sebagai tanda pencurahan Roh Kudus ke atas bangsa-bangsa lain. Pada waktu mempertanggungjawabkan baptisan yang dilakukannya, Rasul Petrus mengatakan bahwa peristiwa tersebut sama seperti peristiwa pada hari Pentakosta ( 11: 15). Kemungkinan besar, bahasa roh yang terjadi saat itu dapat dimengerti.
Setelah mendengar pemberitaan Rasul Paulus tentang Tuhan Yesus, sekitar dua belas "murid" di Efesus memberi diri dibaptis dalam nama Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan, Roh Kudus turun dan mereka mulai berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat (Kisah Para Rasul 19: 1 -5). Tidak jelas apakah bahasa roh di sini dimengerti atau tidak.
Pemakaian Bahasa Roh
Bahasa roh merupakan salah satu dari sembilan karunia roh yan didaftarkan dalam I Korintus 12:8- 10. Dalam pasal 12 ini ditekankan bahwa setiap orang percaya memiliki karunia khusus yang berbeda satu dengan yang lain. Bentuk retoris dalam I Korintus 12:29-30 "Adakah mereka semua ... berkata-kata dalam bahasa roh, menunjukkan bahwa tidak semua orang yang telah dibaptis Roh Kudu (12:13) bisa berbahasa roh. Ditekankan juga bahwa setiap karunia dimaksudkan agar dipakai dalam kebersamaan sebagai satu tubuh Kristus untuk membangun jemaat, bukan untuk penonjolan diri.
Dalam I Korintus 14, dijelaskan bahwa karunia bahasa roh tidak lebih superior (tinggi, terhormat, istimewa) dibandingkan karunia lain. Bahkan, karunia ini kurang berharga dibandingkan karunia bernubuat, sebab karunia ini hanya bermanfaat untuk membangun diri sendiri, bukan membangun jemaat. Bahasa roh hanya bermanfaat bila ditafsirkan (ayat 5). jangan berpikir seperti anak-anak-anak yang mementingkan diri sendiri, melainkan seperti orang dewasa (ayat 20). Jelaslah, bahwa bahasa roh yang dimaksudkan dalam I Korintus ini adalah bahasa yang tidak dimengerti.
Mengapa banyak peristiwa dalam Kisah Para Rasul yang disertai pemberian bahasa roh? Dalam Kisah Para Rasul pasal 2, bahasa roh merupakan tanda dimulainya suatu era baru, yaitu berdiamnya Roh Kudus di dalam diri setiap orang percaya. Dalam pasal 8, bahasa roh menandai penerimaan Allah terhadap orang Samaria yang dipandang rendah oleh orang Yahudi. Dalam pasal 10, bahasa roh menjadi tanda (terutama bagi orang Yahudi yang menemani Rasul Petrus) bahwa karunia Roh Kudus juga dimaksudkan bagi bangsa bukan Yahudi. Dalam pasal 19, karunia bahasa roh mengesahkan berita Rasul Paulus: Bertobat saja tidak cukup. Orang yang bersangkutan harus menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat.
Ayat kunci untuk memahami pemanfaatan bahasa roh adalah I Korintus 14:22, "Karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman." Siapakah orang yang tidak beriman dalam kisah Para Rasul? Orang Yahudi! Tanpa tanda bahasa roh, mereka sulit mempercayai otoritas para rasul pada peristiwa Pentakosta. Tanpa tanda bahasa roh, mereka sulit mempercayai bahwa keselamatan dimaksudkan juga bagi orang Samaria dan bangsa-bangsa bukan Yahudi.

Masih ingatkah Anda, bahwa tatkala kita membuka rangkaian pembahasan kita tentang "kesakitan", diperlihatkan kepada kita betapa kesakitan yang paling parah, adalah ketika orang menderita sakit, tetapi tak mampu merasakannya. Walau sebuah paku besar menghunjam dalam ke telapak kakinya, dan darah mengucur deras, yang bersangkutan-alangkah mengerikannya-tidak merasakan apa-apa. "Sakit, tapi tidak sadar".
Kini kita akan menutup rangkaian pembahasan kita dengan mengatakan, bahwa sikap yang paling ideal dalam menghadapi kesakitan, adalah menyadari bahwa ia sakit, mungkin merasakan sakit yang teramat sangat, namun tidak mau menyerah. Seperti Yesus ketika Ia merasakan ngilunya aniaya salib di sekujur tubuhnya. "Sakit, tapi tidak takluk".
Jadi yang satu-yang terburuk-adalah "sakit, tapi tidak merasa sakit". Sedang yang lain-yang ideal-adalah "sakit, tapi merasa tidak sakit". Yang pertama-yang sebaiknya jangan kita alami --, adalah "tidak mampu merasa sakit". Sedang yang kedua-yang sebaiknya kita usahakan --, adalah "tidak mau merasa sakit". Begitulah kira-kira perbedaannya, secara amat sederhana.
* * *
SEBAGIAN besar kita pasti mengenal kisah mujizat penyembuhan yang dilakukan Yesus, terhadap seorang yang telah menderita sakit 38 tahun lamanya (Yohanes 5:1-18). Orang itu kini cuma mampu tergolek tanpa daya di tepi kolam Betesda. Menanti kalau-kalau ada orang bersedia menolong menceburkannya ke kolam, tepat di saat kolam itu bergejolak. Konon, begitu kepercayaan orang pada waktu itu, barang siapa berhasil masuk ke kolam tersebut pada saat yang tepat, ia akan sembuh,-apa pun penyakitnya.
Penantian yang sia-sia! Sebab sang penolong itu tak pernah muncul. Jadi? Jadi ya terbaringlah kawan kita di situ. Di tepi kolam. Bertahun-tahun lamanya. Pasrah. Sebab, bisa apa lagi? Sampai Yesus datang menghampirinya di tepi kolam. Dan memutuskan rantai rutinitas nasibnya, yang seolah-olah sudah tak mungkin terubahkan itu.
Ini berawal dengan pertanyaan Yesus. Pertanyaan yang sepintas lalu terdengar seperti tak perlu dijawab atau diperhatikan-saking pastinya. "Maukah engkau sembuh?, " begitu Yesus bertanya. Astaga! Pertanyaan macam apa ini ?! Siapa pun, tentu saja, akan menjawab dengan "mau", bukan? Atau Anda punya jawaban lain?
Tapi benarkah begitu? Sungguh-sungguhkah semua orang dengan sendirinya "mau sembuh"? Pada kasus kawan kita ini, soal "ingin sembuh" itu so pasti. Tapi "mau sembuh"? O, belum tentu! Sebab setelah tergolek selama 38 tahun, 99 persen dari seluruh semangat dan pengharapan yang pernah ada, pasti sudah luruh bagaikan daun kering. Justru sikap "menyerah" itulah, pikirnya, yang memungkinkan orang bisa bertahan. Bukan "melawan" yang cuma bakal membuahkan frustrasi! Karena itu, setelah 38 tahun, kawan kita itu lebih siap mental untuk sakit, ketimbang untuk sembuh.
* * *
DENGAN pertanyaan yang "aneh" itu, Yesus ingin mengembalikan lagi semangat dan pengharapan yang telah nyaris pupus, raib dan sirna itu. Prinsip dasar yang Ia mau perkenalkan, adalah: BILA ORANG INGIN SEMBUH, IA PERTAMA-TAMA HARUS MAU SEMBUH!
Prinsip dasar ini diperteguh dan dipertegas lagi melalui "resep" yang diberikan-Nya. Resep yang mengejutkan! Bunyinya: "Bangunlah, angkatlah tilammu, dan berjalanlah!" Astaga! Bangun? Angkat tempat tidur? Berjalan? Setelah 38 tahun? Apa tidak cuma mau ngeledek saja nih?
Ketika Yesus memberi perintah tersebut, Ia pasti belum membaca buku Philip Yancey, atau pun teori-teori kesehatan paling mutakhir, yang menjelaskan betapa kuatnya pengaruh dari apa yang kita pikirkan itu, terhadap fisiologi atau keadaan tubuh kita. Tapi itulah sebenarnya yang Yesus lakukan.
Sebab bila sikap mental Anda adalah "Sudahlah, takluk, tunduk, dan menyerah sajalah!", maka seluruh tubuh Anda pun akan lunglai dan litoy serta merta, tidak terpicu untuk melakukan perlawanan. Sebaliknya, bila spirit atau semangat Anda berkutat menolak untuk menyerah, maka seluruh kelenjar, hormon, syaraf, dan otot di tubuh Anda pun, akan bersikap laksana sepasukan tentara yang mendengar suara terompet, segera mengambil sikap siaga perang.
Dr. Curt Richter, seorang psikolog dari Universitas John Hopkins, AS, melakukan eksperimen dengan dua ekor tikus. Tikus pertama dicemplungkannya ke sebuah bak tertutup yang telah diisi dengan air hangat, untuk dipantau reaksinya. Sebab pintar berenang, baru setelah 60 jam tikus ini tenggelam sebab kelelahan.
Berbeda dengan tikus kedua. Tikus ini terlebih dahulu telah digenggam erat-erat dengan tangan beberapa menit, sampai berhenti menggelinjang. Tatkala dicemplungkan ke air, reaksinya berbeda. Hanya beberapa menit saja dengan lemah ia berusaha berenang, lalu tenggelam.
Richter menyimpulkan, bahwa tikus kedua ini-karena pengalamannya memberontak dari genggaman tangan yang sia-sia sebelumnya --, ia telah menyerah bahkan sebelum tubuhnya menyentuh air. Ia mati karena perasaan ketidak-berdayaannya.
* * *
EKSPERIMEN yang dilakukan pada manusia-tentu saja dengan metode yang berbeda-juga memberikan hasil akhir yang sama. Perasaan putus asa dan tidak berdaya bukan saja mengubah sikap kejiwaan, tetapi juga mengubah tingkat kesakitan yang dirasakan seseorang. Dengan cara-cara tertentu, batas toleransi seseorang terhadap rasa sakit, dapat ditingkatkan atau diturunkan sampai 45 persen.
Williamson, misalnya, bisa tahan tidak kedinginan di tengah suhu yang hanya 2 derajat Celsius, yaitu ketika ia sedang berusaha keras menolong kucing kesayangannya, yang tidak bisa turun dari pohon di pekarangan rumahnya. Namun ketika ia tak punya apa-apa untuk dikerjakan, suhu kamar duduknya yang 15 derajat pun sudah terasa menyiksa. Ia membebat kakinya dengan kaus tebal, lehernya dengan syal panjang, dan duduk dekat-dekat pendiangan.
* * *
BEBERAPA orang akhir-akhir ini berbicara mengenai sindrom "mati pre-mortem", atau "mati sebelum mati" , sebagai akibat yang lebih lanjut dari perasaan takluk, menyerah dan tak berdaya. Orang bisa mengalami sindrom ini, ketika sedikit demi sedikit tetapi secara sistematis, diyakinkan bahwa ia sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi, dan karena itu sebaiknya juga jangan mencoba berbuat apa-apa lagi.
Keadaan ini bisa berawal dengan maksud baik. Dengan sahabat atau kerabat yang datang untuk menjenguk dan bermaksud menghibur. "Sudah, berbaring sajalah. Kalau perlu apa-apa, panggil suster! Jangan dilakukan sendiri!". Atau, "Istirahat saja tenang-tenang di sini, ya! Jangan pikir apa-apa, nanti stress. Saya nanti akan bereskan segalanya untuk Anda!" Jangan ini, jangan itu! Jangan begini, jangan begitu!
Tanpa sadar, sedikit demi sedikit, perasaan bahwa ia punya tempat dan peran yang bermakna dalam hidup ini, akan memudar. Orang segera merasa kehilangan identitas kediriannya. Merasa tak berharga. Hidup tergantung. Ia mati sebelum ajal. Mati pre-mortem.
Tentu saja orang yang sakit amat parah sangat tergantung kepada bantuan orang lain. Bahkan kadang-kadang sampai sekadar untuk bernafas atau menelan makanan. Ya! Dan orang-orang yang mampu, wajib menolongnya.
Namun yang ingin saya tekankan adalah, orang-orang yang ingin membantu itu mesti selalu sadar dan jeli membedakan antara "menawarkan pertolongan" dan "menawarkan pertolongan terlalu banyak". Sebab pertolongan yang berlebih-lebihan, seperti halnya sikap protektif yang kelewatan, tidak akan menguatkan si penderita, melainkan justru meperlemahnya. Membuat ia tak berdaya dan tak berharga. Bagaikan "tikus yang kedua" dalam eksperimen Richter.
* * *
SISTEM pengobatan moderen-termasuk cara-cara perawatan di rumah sakit-sekarang ini cenderung melihat penyakit dan memperlakukan orang sakit terlalu serius. Orang-orang yang dikategorikan sebagai "sakit" diberi perhatian, perlakuan dan tempat yang khusus.
Terpisah serta terasing dari kehidupan biasa. Setiap saat, yang bersangkutan-melalui perlakuan-perlakuan yang diterimanya itu-seolah-olah diingatkan, "Hey, ingat, Anda sakit! Anda tidak normal! Jangan ini, jangan itu! Jangan begini, jangan begitu!"
Padahal teolog besar asal Jerman, Juergen Moltmann, dengan tepatnya mengatakan, "Orang moderen cenderung melakukan pemisahan yang berlebih-lebihan antara "sehat" dan "sakit". "Sehat" didefinisikan sebagai kemampuan untuk bekerja dan kemampuan untuk menikmati segala sesuatu.
Padahal, "sehat" yang sesungguhnya bukan itu. "Sehat" yang sejati adalah kemampuan untuk hidup, tapi juga kekuatan untuk menanggung penderitaan, dan kesanggupan untuk menghadapi kematian. "Sehat" tidak terutama berhubungan dengan kondisi tubuh, melainkan kekuatan jiwa untuk mengatasi kondisi tubuh yang berubah-ubah."
Difahami demikian, semua orang-tanpa kecuali-sebenarnya "sakit". Lemah, terbatas, rentan. Tapi semua orang-termasuk Anda yang kini tergolek di tempat tidur-sebenarnya "sehat". Artinya, masih punya peran, tempat, makna!
Oleh Eka Darmaputera
Renungan kita minggu lalu kita akhiri dengan mengatakan dua hal. Pertama, kesakitan dapat bersumber pada kesalahan kita sendiri. Artinya, apa yang kita buat, senantiasa punya akibat. Kitab Amsal penuh pernyataan-pernyataan mengenai ini.
Misalnya, "Kemalasan mendatangkan tidur nyenyak, dan orang yang lamban akan menderita lapar" (Amsal19:15). Namun sebaliknya, "Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahannya akan meluap dengan air buah anggurnya" (Amsal 3:9-10). Kejujuran, ketulusan dan kemurahan hati akan menghasilkan kebaikan. Sedangkan kecurangan, tipu daya dan keserakahan akan memberikan yang sebaliknya.
Apakah prinsip Perjanjian Lama ini masih relevan dan berlaku sampai sekarang? YA, walaupun dalam jangka pendek, kejujuran, misalnya, justru menimbulkan banyak persoalan. Tapi yang penting 'kan siapa yang akan tertawa paling akhir, bukan?
Sampai kapan pun, saya yakin, hukum "perbuatan tertentu mendatangkan akibat tertentu", tidak pernah kadaluarsa. Membangun pabrik mercon di tengah pemukiman penduduk selalu berbahaya. Tiga kali sehari, selama bertahun-tahun, hanya mengonsumsi hamburger plus kentang goreng, minumnya selalu wiski atau cognac, sambil menyedot asap rokok tiga bungkus sehari, pasti fatal akibatnya. Prinsip ini berlaku untuk semua orang -- Kristen maupun bukan.
* * *
BAGAIMANA dengan prinsip kedua, bahwa Tuhan-lah penyebab mala-petaka manusia, karena dengan itulah Ia menghukum Israel atas dosa-dosa mereka? Apakah prinsip ini masih "valid" dan berlaku bagi kita sekarang?
Menurut Philip Yancey, tidak serta merta. Mengapa? Karena, menurutnya, hubungan "perjanjian" (= covenant) antara Allah dan Israel itu "unik". Tak ada duanya. Seperti tutur Musa kepada Israel, "Engkaulah yang dipilih oleh Tuhan, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya" (Ulangan 7:7).
Janji kepada Israel tidak serta merta bisa kita klaim sebagai janji untuk kita. Demikian pula halnya dengan ketentuan-ketentuan bagi Israel. Ini juga tidak secara langsung dan menyeluruh berlaku atas kita.
Dalam kasus Israel, setiap hukuman Tuhan selalu didahului dengan peringatan dan teguran para nabi. Israel diingatkan agar menyadari dosa-dosa mereka. Nabi-nabi seperti Amos, Yeremia, Yesaya, Habakuk, Hosea, dan sebagainya, secara rinci dan spesifik menyebutkan dosa-dosa apa saja yang dimaksudkan Allah. Israel dituntut untuk bertobat dan kembali kepada Allah.
Barulah bila kesempatan untuk bertobat ini tidak dimanfaatkan oleh Isarel, Allah akan datang dengan penghukuman. Penghukuman itu dalam bentuk apa, itu pun disebutkan secara kongkret. Kepada penduduk Yerusalem, Yesaya memaklumkan,
"Tuhan, Tuhan semesta alam telah menentukan suatu hari, (di mana) Ia akan menggemparkan, menginjak-injak dan mengacaukan orang. Di "Lembah Penglihatan" tembok akan dirombak, dan teriakan minta tolong (akan) sampai ke puncak gunung! Elam telah memasang tabung panah. Aram datang dengan pasukan berkereta dan berkuda. Dan Kir membuka sarung pedang ." (Yesaya 22:5-6). Sekali lagi, sangat spesifik.
* * *
BERBEDA sekali dibandingkan kita sekarang, bukan? Israel-berbeda dari kita-tidak pernah dan tidak perlu bertanya-tanya: "Apa dosaku?", "Mengapa penderitaan ini?, atau "Apa yang dituntut Tuhan?". Apa yang misterius bagi kita, amat jelas bagi mereka.
Kesakitan akibat terkena peluru nyasar, atau akibat tawuran yang membabi buta, atau akibat penyakit kanker yang amat lanjut, atau akibat dikhianati serta ditipu teman seiring, jelas berbeda dibandingkan "penderitaan-sebagai-hukuman" yang dialami Israel !
Dan jangan sekali-kali mempersamakannya! Betapa sering dalam hal ini, orang-orang Kristen punya maksud baik, tapi tidak peka dan tidak arif. Mengunjungi saudara-saudaranya yang sakit, mereka tidak membawa kata-kata penghiburan atau kue atau karangan bunga. Tapi menanamkan "perasaan bersalah", "Anda pasti melakukan sesuatu, sehingga Tuhan menghukum Anda begini."
Atau ada pula yang membawa oleh-oleh berupa "dakwaan". "Anda kurang percaya dan kurang berdoa sih". Oleh-oleh semacam itu samasekali tidak menghibur atau membantu. Malah menambah kesakitan yang tidak perlu. Sebelumnya cuma sakit raga, kini hati mereka luka, tidak sejahtra, dan ragu.
* * *
ITU sebabnya, kita perlu membaca dan memahami berita Alkitab secara baru. Kita juga perlu mencari "model" lain untuk coba menjawab pertanyaan, "Siapa di balik kesakitan dan penderitaan manusia?". "Model" yang baru itu adalah YESUS.
Kita tahu bahwa Yesus adalah "Allah yang menjadi manusia". Allah Maha Pencipta yang adi-kodrati, menjelma menjadi makhluk, menjadi manusia yang kodrati. Allah yang serba tak terbatas, dengan ikhlas membatasi diri-Nya, menjadi sama seperti kita-terikat oleh hukum alam. Bisa merasakan lapar, haus, sedih, gembira dan .. sakit! Karena itu, bagaimana Yesus merespon kesakitan dan penderitaan, bagi kita adalah cermin yang ideal mengenai sikap yang benar dalam menghadapi sakit dan penderitaan.
Apa saja yang dapat kita katakan mengenai Yesus dalam kaitan ini? Pertama, Ia menghadapi realitas kesakitan dengan "takut" dan "gentar" "Hatiku sangat sedih, seperti mau mati rasanya," begitu Ia mengungkapkan perasaanNya (Matius 26:38). Karena kemampuan-Nya untuk merasakan kesakitan itu, Ia menjadi peka terhadap orang-orang yang "senasib". Ia tidak sekadar mengkotbahi mereka dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan. Kuasa ilahi yang dimiliki-Nya tidak Ia pakai untuk menghukum, melainkan untuk menyembuhkan!
Namun walaupun begitu, toh "mujizat penyembuhan" (yang memang dilakukan-Nya, dan digemari banyak orang!) tidak pernah Ia jadikan pusat pelayanan-Nya. Apalagi sebagai alat pemikat. Prinsip Yesus adalah, "percaya dulu, maka mujizat terjadi", bukan "pamerkan mujizat sebanyak-banyaknya, supaya sebanyak-banyaknya pula orang takjub lalu percaya".
Cuma sekali-sekali, pada saat-saat yang Ia anggap perlu, Ia memperlihatkan kuasa-Nya. Tapi pada umumnya, Ia memilih untuk menghormati hukum alam. Bahkan pada saat yang paling gawat pun, ketika Ia akan ditangkap. "Kau sangka bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat untuk membantu Aku?" (Matius 26:53). Tapi bukan itu yang Ia lakukan. Ia rela pergi bersama-sama dengan para penangkap-Nya.
Oleh karena itu, Ia pun ingin agar kita dengan rendah hati bersedia menerima keterbatasan kodrati kita, termasuk realitas bahwa kita bisa sakit dan menderita, dan bahwa sakit serta menderita itu tidak enak. Tidak terlalu mudah cari mujizat.
* * *
BAGAIMANA pendapat Yesus mengenai "penanggungjawab utama" kesakitan dan penderitaan manusia? Ia tak pernah memberi jawaban "instan", yang tinggal aduk langsung reguk. Tapi yang jelas adalah, bagi Yesus, keduanya tidak ada dalam skenario Allah. Allah yang Ia perkenalkan adalah Allah yang bersedia menanggung penderitaan manusia, karena itu alih-alih sengaja membuat manusia menderita. Imposibel-lah!
Bagaimana kalau Iblis yang kita jadikan tertuduh utama? Tentu saja Iblis berperan besar, tapi jangan kita pikir ia bisa seenaknya berbuat apa saja tanpa perkenan Allah. Tidak sehelai rambut pun gugur dari kepala kita, kata Yesus, tanpa diketahui oleh Bapa yang di sorga!
Kalau begitu, manusia sendirikah penyebabnya? Manusia tentu bertanggungjawab. Tangan mencencang, bahu memikul. Tapi Yesus segera memperingatkan, bahwa belum tentu kesakitan dan penderitaan adalah buah kesalahan yang bersangkutan.
Menjawab pertanyaan murid-murid-Nya, mengenai dosa siapa yang menyebabkan seseorang buta sejak lahir? Yesus menjawab, itu bukanlah akibat dosa yang bersangkutan! (Yohanes 9:2-3). Tapi "karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia".
Jadi tetap tidak ada satu jawaban yang pasti. Ini disebabkan bukan karena jawabannya yang sulit, melainkan karena pertanyaannya yang salah! Seharusnya pertanyaan kita bukanlah "mengapa?" atau "apa sebabnya?" atau "siapa yang menyebabkannya?". Semua pertanyaan ini menunjuk ke masa lampau.
Yang Yesus kehendaki adalah kita melihat ke depan. "Oke, sekarang saya sakit. Apa yang sekarang dapat dan harus saya lakukan, supaya 'pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan' melalui keterbatasan saya ini?". Kalau bisa begini sikap kita, wah, kita dapat menghindarkan banyak frustrasi yang tidak perlu. Sungguh!
Karena itu doa saya bukan saja supaya saya sembuh. Tapi apakah saya sehat atau sakit, saya masih bisa berguna bagi Kerajaan-Nya. Apakah saya sehat atau sakit, saya dimampukan menjadi saksi nyata dari kebaikan-Nya.
Oleh Eka Darmaputera
Buat anda yg rindu & ingin di doakan oleh kami...
silahkan isi pokok doa & permasalahan yang anda ingin selesaikan dengan Tuhan, tim kami disini akan sangat bahagia sekali & memiliki kerinduan untuk membantu doa buat pergumulan anda...
segera, jangan malu & canggung...
Lekas selesaikan pergumulan anda!!!

1 Tesalonika 1
Kebanggaan Paulus terhadap jemaat di Tesalonika terlihat jelas. Di jemaat ini ada iman, kasih, dan pengharapan (ayat 3). Inilah jemaat yang terbuka menerima Injil dengan penuh sukacita, justru di saat-saat penindasan (ayat 6). Sukacita dan nilai-nilai Injil yang luhur tidak dinikmati sendiri, tetapi tumpah dan memancar keluar sehingga dikenal dan dinikmati banyak orang. Inilah jemaat yang misioner, kota yang di atas bukit sehingga banyak orang mengenal dan memuliakan Tuhan karena mereka. Injil memancar di seluruh wilayah Makedonia dan Akhaya (ayat 8-9).
Paulus memuji jemaat Tesalonika. Namun, pujian Paulus ini tidak mutlak ditujukan kepada jemaat, untuk kemuliaan jemaat, karena tujuan pujian itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Segala ucapan syukur hanya tertuju kepada Allah (ayat 1). Sikap Paulus ini memberikan pelajaran penting bagi kita: [1] Paulus menunjukkan sikap seorang hamba Tuhan yang begitu memperhatikan perkembangan jemaat Tuhan; [2] Kita diajak untuk mengakui bahwa sedikit sekali pemimpin jemaat yang memberikan pujian kepada jemaat yang diasuhnya. Kita lebih sering mendengar kritikan tajam dan kecaman pedas, analisis semua kekurangan dan kelemahan secara gamblang.
Tidak dapat disangkal bahwa tidak ada jemaat sempurna. Tetapi masih banyak potensi positif yang dimiliki oleh gereja sebagai tubuh Kristus. Tuhan telah mempergunakan gereja sebagai alat-Nya dan begitu banyak orang yang telah menikmati hasil karya gereja. Begitu banyak orang yang telah menikmati ketenangan dan kedamaian hati; menemukan oase di tengah-tengah padang pasir yang kering. Dengan tidak menutup mata terhadap semua kekurangan, adalah berdosa terhadap Roh Kudus kalau kita mengatakan sampai hari ini gereja tidak pernah berbuat apa-apa.
Renungkan: Kelebihan gereja bukan terletak pada orang yang ada di dalamnya tetapi terletak pada Kristus kepala gereja. Oleh sebab itu sebagai pujian jemaat akhirnya harus bermuara kepada Tuhan.

Dalam setiap ibadah hari Minggu kita menaikkan doa syafaat bagi jemaat-jemaat yang lain. Biasanya doa syafaat itu berbunyi demikian, "Ya Allah, saat ini kami teringat saudara-saudara yang tidak bisa hadir dalam kebaktian malam ini. Kami berdoa untuk mereka yang sudah lanjut usia, yang karena keterbatasan tubuh, tidak bisa lagi datang ke gereja. Mohon Tuhan lawat mereka dan berikan mereka penghiburan. Kami juga berdoa bagi saudara-saudara yang sakit, kiranya Tuhan bersama-sama mereka dan menyembuhkan mereka. Bagi teman-teman yang menghadapi kemunduran iman dan masalah mohon Tuhan hadir di sana dan memberikan mereka kekuatan." Terdengar pula doa yang biasa dipanjatkan ketika orang kristen ketika hendak makan, "Terima kasih Tuhan Yesus, untuk makanan yang Engkau berikan kepada kami malam hari ini. Saat ini kami teringat orang-orang miskin, para gelandangan yang kekurangan makanan. Mereka tidak bisa menikmati makanan seperti kami ya Tuhan. Mohon Tuhan memberkati, sehingga mereka bisa makan seperti kami."
Doa-doa di atas adalah doa-doa yang indah. Tapi, doa bukan sekedar kata-kata meskipun kata-kata itu indah. Tapi doa seharusnya adalah sesuatu yang menggerakkan kita yang berdoa untuk melakukan suatu tindakan yang nyata. Bagaimana doa yang menggerakkan kita untuk beraksi? Seharusnya kita berdoa syafaat demikian, "Ya Tuhan kami berdoa untuk saudara-saudara yang sudah lanjut usia, utuslah kami kepada mereka untuk memberikan penghiburan kepada mereka. Pakailah kami sebagai alat Tuhan untuk mengunjungi jemaat-jemaat yang sakit supaya mereka mendapat kekuatan. Dan biarlah kami boleh menghibur saudara-saudara kami yang lemah iman dan mendapatkan masalah yang berat supaya mereka dapat merasakan kasih dan penghiburan." Sedang doa makan yang tidak sekedar kata-kata, misalnya, "Ya Tuhan Yesus, kami berterima kasih untuk makanan ini. Saat ini kami teringat orang-orang yang kelaparan, doronglah kami untuk membagi kepada mereka apa yang kami punya." Apakah Anda sekedar berkata-kata indah dalam berdoa?

Laras Genggam Erat Hatiku
01. Erat
02. Bapa Yang Mengasihiku
03. CintaMu Terlebih Besar
04. Keajaiban Cinta-Mu
05. Worthy Is The Lamb
06. Selalu MencintaiMu
07. Cinta
08. BersamaMu
09. Power Of Love
10. Pengampunan

Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini dan sampai selama-lamanya
Ibrani 13:8
Sesuatu yang diartikan stabil artinya selalu sama dan tidak berubah. Demikilan pula dengan hidup kita dalam melewati hari-hari yang kita jalani dengan segala situasi yang terjadi diharaplan kita boleh tetap berdiri teguh di dalam Tuhan. Walau terkadang keadaan sekitar dapat membuat kita menjadi tidak stabil, sehingga membuat kita mudah menjadi putus asa dan kecewa. Namun di setiap keadaan apapun kita harus tetap menjadi stabil, serta tetap kuat di bersama dengan Tuhan Biarlah dalam diri kita selalu ada ketenangan, untuk menyikapi segala situasi yang ada. Ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang tidak pernah berubah, baik dalam kasih dan kuasaNya itu tetaplah sama bagi kita. Sehingga kita tidak perlu khawatir dengan kondisi yang kita alami. Lepaskanlah hati kita dari segala belenggu kecemasan. Sebab pada saat kita percaya kepada Allah, Ia tidak pernah mengecewakan kita, sehingga hal ini akan membuat kita berada dalam kondisi yang stabil, serta kita tidak perlu hanyut dalam keadaan yang terjadi. Alasan lain agar kita tetap berdiri kokoh yaitu, Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak terbatas. Hal yang lain percayalah bahwa kita memiliki Allah yang berkuasa, Allah yang sanggup melakukan perkara yang ajaib dalam hidup kita. Sebab itu agar kondisi kita selalu dapat stabil kita harus selalu meminta kemampuan, kekuatan dari Tuhan, sebab Yesus adalah sumber dari hidup kita. KekuatanNya sungguh sempurna dan dapat membuat hidup kita stabil.. Yag berikutnya, harus memiliki fondasi kehidupan yang kuat dimana kita menggunakan Yesus Kristus sebagai dasar hidup kita. Saat kita menjadikan Yesus sebagai dasar dalam hidup ini maka kita akan tetap kokoh berdiri. Sekalipun hidup kita mengalami kegoncangan tetaplah kuat dan jadilah stabil dalam menjalani hidup ini sebab Allah tidak pernah meninggalkan kita.
by Joice Hadisiswoyo

Matius 25 : 29 Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.
Ekspansi.....perluasan daerah....sebuah impian yang pasti ada di benak hampir setiap manusia yang bergerak, yang bekerja dan produktif. Tapi seringkali kita berpikir-pikir, apakah hal ini sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan? Atau terkesan sangat ambisius dan agresif?
Tapi coba kita perhatikan lagi baik-baik ketika Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang talenta itu. Di sana dibagikan tentang bagaimana pengusaha itu memberikan talenta-talentanya, dan dia berharap bahwa semua pekerja yang diberikan talenta itu dapat melakukan sesuatu yang produktif dengan talenta-talenta tersebut.
Betapa senangnya dia ketika mengetahui bahwa yang memperoleh lima talenta itu memperoleh lima talenta hasil dari lima yang pertama, kemudian yang mendapat dua talenta menghasilkan dua talenta juga.
Kalau kita renungkan baik-baik, memang pada awalnya ketika orang-orang tersebut memperoleh talenta-talenta ini, maka dengan sendirinya itu berarti mereka mempunyai pekerjaan yang harus dilakukan. Dan memang dibutuhkan satu pemikiran yang matang untuk mengupayakan talenta-talenta itu supaya dapat menghasilkan sesuatu yang berguna.
Entah bagaimana, tapi yang memiliki lima talenta itu sepertinya sangat gesit dan produktif dalam mengelola talenta-talenta tersebut. Bisa jadi dia langsung menelepon rekan bisnisnya atau partnernya untuk kerja sama yang baik, atau bisa juga dia investasikan di perusahaan-perusahaan yang menguntungkan, dan akhirnya dia berhasil memperoleh laba yang sama jumlahnya. Dengan kata lain, dia adalah fund manager yang sangat pandai dalam hal ini.
Begitu juga dengan yang memperoleh dua talenta. Mungkin dia memang tidak menginvestasikan di perusahan besar, tapi kelihatannya dia juga tidak diam saja. Dia melakukan sesuatu yang sangat baik dan cukup smart sehingga akhirnya dia menghasilkan dua talenta sebagai tambahan dari dua talenta yang menjadi modal pertamanya.
Pada mulanya bisa jadi semua talenta itu memang merupakan sebuah tugas yang harus dikerjakan. Tapi coba kita perhatikan setelah mereka memperoleh hasil tersebut, siapa yang mendapat keuntungannya? Apakah pengusaha itu? Bukan. Dia mengembalikan talenta-talenta itu kepada mereka masing-masing. Yang mendapat lima kini menjadi punya sepuluh, dan yang mempunyai dua kini mempunyai empat. Artinya, pekerjaan itu kini menjadi sebuah ekspansi yang luar biasa. Perluasan yang mungkin tidak pernah mereka pikirkan awalnya. Sesuatu yang baik untuk mereka sendiri.
Tapi coba lihat yang memiliki satu talenta. Karena kemalasannya, kemarahannya dan kedengkiannya, akhirnya dia hanya mengubur talentanya itu. Dan hasil akhirnya kita bisa membacanya bahwa akhirnya bahkan satu talenta itu pun diambil daripadanya karena dianggap tidak bertanggung jawab terhadap apa yang sudah Tuhan berikan itu.
Karena itu, apapun juga yang anda sedang hadapi saat ini, masalah apapun, pekerjaan apapun, kesulitan apapun, jangan menganggapnya sebagai beban dalam hidup ini. Jadikan semua itu justru sebagai peluang untuk maju, dan kerjakan sampai satu waktu menjadi pemenang dalam segala hal yang anda kerjakan. Ingatlah, bahwa hasil apapun dari semua yang anda kerjakan itu akan membuahkan keuntungan untuk diri anda sendiri. Jangan cepat putus asa.
Ibrani 12:11 Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.
Jadi, jelaslah bahwa jangan takut untuk melewati semua hal yang harus kita lewati. Tapi jangan lupa sertakan Tuhan dalam segala hal yang kita kerjakan supaya berhasil. Jangan takut untuk menjadi lelah, karena Tuhan akan memberikan kekuatan kepada orang-orang yang berharap kepadaNya. Jangan putus asa, lakukan terus, bersama Tuhan anda bisa. Amin.
By : Ps. Sariwati Goenawan – IFGF GISI Bandung

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di Rumah Sakit di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.
Malaikat memulai pembicaraan, "kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia!
"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang ... " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.
Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati. Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali merngunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".
Dengan lembut si Malaikat berkata, "anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".
Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layer besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".
Kata Malaikat, "aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu" Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, " Tuhan, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".
Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.
Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat ! tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang ! Dengan setengah bergumam dia bertanya, "apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"
Jawab si Malaikat, " ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".
Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam. Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.
Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00". Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.
Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan. Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.
Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.
Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain. Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.
Di saat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi. Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain... sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.


















