Image Hosted by UploadHouse.com

Berurusan Dengan Kesalahanmu

on Kamis, 09 April 2009


Jangan khawatir tentang kesalahan-kesalahanmu. Engkau cenderung untuk mencari apa yang Tuhan bisa berikan kepadamu daripada mencari Tuhan itu sendiri. Saya baru saja membaca tentang seseorang yang telah membaca biografi orang kudus. Dia sangat marah karena dia merasa memiliki begitu banyak kekurangan bila dibandingkan dengan orang tersebut dan akhirnya menyerah untuk terus menghidupi hidup di dalam Kristus. Jangan menjadi seperti itu!

Jika engkau melihat betapa banyak kekuranganmu, engkau akan menjadi kesal dan mengganggu hadirat Tuhan dan pekerjaan-Nya yang sempurna di dalammu. Rasa malu yang engkau rasakan ketika melihat kesalahan-kesalahanmu adalah masalah yang lebih besar daripada kesalahan-kesalahan itu sendiri.

Francis de Sales berkata, adalah sangat mudah untuk dipenuhi oleh cinta daripada oleh KASIH itu sendiri. Jika Tuhan hanya satu-satunya pribadi yang kau kasihi, engkau akan sepenuhnya berfokus kepada diri-Nya semata-mata. Ketika engkau sibuk berusaha untuk memperoleh suatu perasaan bahwa Ia mengasihimu, ini berarti engkau masih asyik dengan dirimu sendiri. Semakin terbuka dan tenang rohmu, semakin dekat engkau akan merasakan Tuhanmu.

2 Petrus 3:9
Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Roma 12:16
Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

Diterjemahkan dari buku:
The Seeking Heart by Fenelon

MP3 Rohani Gratis Buatan UF Dkk

Bertahun-tahun yang lalu, saat masih di bangku kuliah, aku dan tiga orang rekan sepelayanan membuat rekaman album ‘indie label’ bermodalkan dua gitar dan satu walkman Sony. Dari sembilan lagu yang ada, ada 7 lagu dikarang oleh the most handsome and talented guy :-p, Johnson Sihombing. Dia sekarang sedang studi S2 di Australia. Aku salut dengan kehidupan dan kesaksiannya. Johnson masih rajin ke UF kan?

Lewat ketujuh lagu karangan Johnson ini, kita akan dibawa untuk mengerti bahwa hanya Kristus sajalah yang berarti dalam hidup ini. Dua lagu lainnya dikarang oleh Togar Simatupang (Yesusku Sahabatku) dan aku sendiri (Kubangga PadaMu), dinyanyikan dengan vokalnya masing-masing. Sedangkan vokal perempuan dalam sebagian besar lagu diisi oleh Marlina Simarmata. Gitar dibawakan oleh Togar Simatupang dipadu sedikit olehku dengan gitar melodi.

Mohon maaf bila rekamannya diselingi dengan suara air, derit gerbang yang digeser, dan suara orang. Lagu-lagu ini direkam di rumah Togar dan Johnson lalu dikonversi ke MP3 olehku menggunakan komputer Herry Yanto (joe). Pengalaman merekam lagu-lagu ini tidak akan pernah terlupakan.

Meski usaha Johnson untuk mempromosikan lagu ini kepada produser belum juga membuahkan hasil, mudah-mudahan bisa menjadi berkat buat Sobat UF dimanapun berada. Kalau ada lagu yang kamu suka dan ingin menyanyikannya dalam persekutuan sekolah, kampus, kantor, atau gereja, UF mempersilakannya dengan catatan menyebutkan nama penciptanya.

Ada beberapa lagu yang aku rekomendasikan untuk didengarkan lebih dahulu: ‘Indahnya HadiratMu’, ‘Ingin Ku Slalu’, ‘Yesusku Sahabatku’, dan ‘Jiwaku Haus Kepada-Mu’. Selamat mendengarkan!


Diam dalam Rumah-Mu
Indahnya Hadirat-Mu
Ingin Ku Slalu
Jiwaku Haus Kepada-Mu
Bermazmurlah
Bawaku Smakin Dekat
Jadikanku Berkat
Kubangga Pada-Mu
Yesusku Sahabatku

Klik Lagu Untuk Download...

Orang Kristen Tidak Bisa Disantet


Orang Kristen yang sungguh-sungguh hidup di dalam Kristus memang benar-benar tidak bisa terkena santet / gendam / hipnotis atau tidak mempan sewaktu diserang kuasa kegelapan / iblis. Mengapa bisa terjadi? jawabnya sangat sederhana, yakni karena --> MEREKA MENGENAKAN PAKAIAN KEBENARAN ALLAH (MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS) DAN KEMULIAAN ALLAH ADA DI DALAM DIRI MEREKA DAN ALLAH LAH YANG MENJADI TEMBOK BERAPI DI SEKELILING MEREKA.

(Ayub 29:14, Yes 61:10,
Zakharia 2:5, Yoh 10:28,29, Amsal 12:28, Amsal 13:6, Roma 1:17, Roma 3:21,22)

Bertahan Dalam Pencobaan


Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12)

Pencobaan-pencobaanku telah menjadi guruku dalam soal Ketuhanan (Martin Luther)

Setiap pencobaan adalah kesempatan untuk berbuat baik. Dijalan menuju kedewasaan rohani, pencobaan pun menjadi batu loncatan dan bukan merupakan batu sandungan bila Anda menyadari bahwa pencobaan merupakan kesempatan untuk melakukan hal yang benar sama seperti pencobaan juga merupakan kesempatan untuk melakukan hal yang salah. Pencobaan cuma memberi pilihan, meskipun pencobaan merupakan senjata utama Iblis untuk menghancurkan Anda. Allah ingin menggunakannya untuk mengembangkan Anda. Setiap kali Anda memilih untuk berbuat baik dan bukannya dosa, Anda sedang bertambah mendekati karakter Kristus.

Untuk memahami hal ini, Anda harus terlebih dahulu mengenali sifat-sifat karakter Yesus. Salah satu gambaran yang ditulis paling singkat dan jelas tentang karakter Nya ialah buah Roh :"Bila Roh Kudus menguasai kehidupan kita, Roh itu akan menghasilkan buah seperti ini di dalam diri kita: sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetian, kelemah lembutan, penguasaan diri"

Kesembilan sifat ini merupakan perluasan dari Hukum yang Terutama dan melukiskan suatu gambaran yang indah tentang Yesus Kristus. Yesus merupakan kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran dan semua buah lainnya yang sempurna yang diwujudkan dalam satu pribadi. Memiliki buah Roh berarti bersifat serupa dengan Kristus.

Lalu bagaimana Roh Kudus menghasilkan kesembilan buah ini di dalam kehidupan Anda? Apakah Dia membuatnya secara instan? Apakah Anda akan bangun suatu hari dan tiba-tiba Anda sudah memiliki sifat-sifat ini sepenuhnya? Tidak. Buah selalu menjadi matang secara perlahan.

Kalimat berikut merupakan salah satu kebenaran rohani paling penting yang akan Anda pelajari : Allah mengembangkan buah Roh dalam kehidupan Anda dengan membiarkan Anda mengalami berbagai keadaan di mana Anda tergoda untuk mengungkapkan sifat yang justru berlawanan! Pengembangan karakter selalu melibatkan suatu pilihan, dan pencobaan menyediakan kesempatan tersebut.

Misalnya, Allah mengajar kita mengasihi dengan menempatkan beberapa orang yang tidak menyenangkan di sekiling kita. Tidak diperlukan karakter tertentu untuk mengasihi orang-orang yang baik budi dan mengasihi Anda. Allah mengajarkan sukacita di tengah-tengah penderitaan kepada kita bila kita berpaling kepada Nya. Kebahagian bergantung pada situasi-situasi luar, tetapi sukacita didasarkan pada hubungan Anda dengan Allah.

Allah mengembangkan damai sejahtera yang sesungguhnya di dalam kita, bukan dengan membuat hal-hal berlangsung seperti yang kita rencanakan, melainkan dengan membiarkan terjadinya masa-masa kacau dan membingungkan. Siapa pun bisa dengan damai memandang matahari terbenam yang indah atau bersantai saat liburan. Kita belajar berdamai sejahtera yang sejati dengan memilih untuk mempercayai Allah di dalam keadaan-keadaan di mana kita tergoda untuk khawatir atau takut. Demikian juga, kesabaran berkembang di dalam keadaan-keadaan di mana kita dipaksa untuk menunggu dan tergoda untuk marah atau mengamuk.

Allah memakai situasi yang berlawanan dari setiap buah untuk memberi kita sebuah pilihan. Anda tidak bisa mengakui sebagai orang baik jika Anda tidak pernah tergoda untuk bersifat buruk. Anda tidak bisa mengaku setia jika Anda tidak pernah memiliki kesempatan untuk bersifat tidak setia. Kejujuran dibangun dengan mengalahkan godaan untuk bersifat tidak jujur; kerendahan hati bertumbuh bila kita menolak menjadi sombong; dan ketekunan berkembang setiap kali Anda menolak pencobaan untuk menyerah. Setiap kali Anda mengalahkan suatu pencobaan, Anda menjadi lebih serupa dengan Yesus.

BAGAIMANA PENCOBAAN BEKERJA

Adalah berguna jika kita mengetahui bahwa Iblis sepenuhnya bisa diramalkan. Dia telah memakai strategi dan tipuan-tipuan kuno yang sama sejak Penciptaan. Semua pencobaan mengikuti pola yang sama. Itulah sebabnya Paulus berkata, "Kita sangat mengenal rencana-rencana jahatnya" Dari Alkitab kita mengetahui bahwa pencobaan mengikuti proses empat langkah, yang dipakai Iblis terhadap Adam dan Hawa maupun pada Yesus.

Pada langkah pertama, Iblis mengenali suatu keinginan di dalam diri Anda. Mungkin keinginan yang berdosa, seperti keinginan untuk membalas dendam atau untuk menguasai orang lain, atau mungkin keinginan yang logis dan normal, seperti keinginan untuk dikasihi dan dihargai atau untuk merasakan kesenangan. Pencobaan dimulai ketika Iblis mengusulkan (dengan suatu pemikiran) agar Anda menyerah pada suatu keinginan jahat, atau agar Anda memenuhi suatu keinginan yang logis dengan cara yang salah atau pada waktu yang salah. Sadarlah selalu akan jalan pintas. Hal-hal tersebut sering kali merupakan pencobaan ! Iblis berbisik, "Kamu layak mendapatkannya ! Kamu harus memilikinya sekarang ! Itu akan lebih mengasikkan....menyenangkan....atau membuatmu merasa lebih baik".

Kita mengira pencobaan berada di sekeliling kita, tetapi Allah berfirman bahwa pencobaan di mulai di dalam diri kita. Jika Anda tidak memiliki keinginan bathin, pencobaan tidak bisa menarik perhatian Anda. Pencobaan selalu berawal di dalam pikiran Anda, bukan di dalam keadaan. Yesus mengatakan "Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam". Yakobus memberitahu kita bahwa ada "banyaknya keinginan yang ada di dalam hati saudara"

Langkah kedua ialah Keraguan. Iblis berusaha mmbuat Anda meragukan apa yang telah Allah firmankan tentang dosa; Apakah hal tersebut benar-benar salah? Apakah Allah benar-benar melarang kita melakukannya? Apakah Allah bukan memaksudkan larangan ini untuk orang lain atau waktu yang lain? Tidakkah Allah ingin agar aku bahagia? Alkitab memperingatkan, "Waspadalah ! jangan biarkan pikiran jahat atau keraguan membuat dirimu berpaling dari Allah yang hidup"

Langkah Ketiga ialah tipu daya. Iblis tidak mampu mengatakan yang sebenarnya dan disebut "bapa segala dusta" Segala sesuatu yang Iblis katakan kepada Anda tidaklah benar atau hanya separuh benar, Iblis menawarkan dustanya untuk menggantikan apa yang telah Allah katakan di FirmanNya. Iblis mengatakan, :Kamu tidak akan mati, Kamu akan menjadi lebih bijaksana, Tidak seorangpun tahu, Itu akan memecahkan masalahmu. Selain itu, semua orang juga melakukannya, Itu hanyalah sebuah dosa kecil" Tetapi sebuah dosa kecil adalah bagaikan sedang hamil muda: Pada akhirnya ia akan kelihatan dengan sendirinya.

Langkah Keempat ialah ketidak taatan. Pada akhirnya Anda bertindak berdasarkan pikiran yang selama ini Anda timbang-timbang di dalam benak Anda. Apa yang mulanya merupakan sebuah gagasan muncul dalam perilaku. Anda menyerah pada apapun yang menarik perhatian Anda. Anda mempercayai dusta Iblis dan jatuh ke dalam perangkap yang diperingatkan oleh Yakobus: "Tetapi orang tergoda kalau ia ditarik dan dipikat oleh keinginannya sendiri yang jahat. Kemudian, kalau keinginan yang jahat itu dituruti, maka lahirlah dosa; dan kalau dosa sudah matang, maka akibatnya ialah kematian. Janganlah kalian tertipu, Saudara-saudaraku yang tercinta"

MENGALAHKAN PENCOBAAN

Memahami cara kerja pencobaan sangatlah berguna, tetapi ada langkah-langkah khusu yang perlu Anda ambil untuk mengalahkannya.

Jangan mau di intimidasi. Banya orang Kristen dibuat takut dan hilang semangat oleh pikiran-pikiran yang mjenghasut, dengan merasa bersalah, karena tidak berada "di luar" jangkauan pencobaan. Mereka merasa malu hanya karena terkena pencobaan. Inilah kesalah pahaman tentang kedewasaan. Anda tidak pernah bertumbuh tanpa pencobaan.

Pencobaan adalah tanda bahwa Iblis membenci Anda, bukan tanda kelemahan atau sifat keduniawian Anda.



Kuasa penyembuhan dari Kurban Tebusan-Nya … tersedia untuk setiap penderitaan dalam kefanaan.
Juruselamat berfirman: “Marilah kepada-Ku semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Banyak orang memikul beban yang berat. Beberapa orang kehilangan orang terkasih karena kematian atau peduli terhadap orang yang cacat. Beberapa orang telah terluka karena perceraian. Yang lain merindukan pernikahan kekal. Beberapa orang diperbudak oleh zat-zat atau kebiasaan yang mencandukan seperti: alkohol, tembakau, narkoba, atau pornografi. Yang lain mengalami cacat fisik atau gangguan mental. Beberapa lagi dihadapkan pada ketertarikan terhadap sesama jenis. Beberapa mengalami depresi atau ketidakmampuan yang serius. Singkatnya, banyak yang berbeban berat.

Kepada kita masing-masing Juruselamat memberikan undangan yang penuh kasih ini:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:28–30).

Tulisan suci berisi banyak kisah tentang Juruselamat “meringankan” beban yang berat. Dia menyebabkan orang buta melihat; orang tuli mendengar; orang lumpuh, timpang, atau cacat disembuhkan; penderita kusta ditahirkan; dan roh jahat diusir. Sering kali kita membaca bahwa orang yang disembuhkan dari penyakit jasmani ini “sembuh” (lihat Matius 14:36; 15:28; Markus 6:56; 10:52; Lukas 17:19; Yohanes 5:9).

Yesus menyembuhkan banyak orang dari penyakit jasmani, tetapi Dia tidak menahan kesembuhan orang-orang yang berusaha untuk “sembuh” dari penyakit lain. Matius menulis bahwa Dia menyembuhkan setiap penyakit di antara orang-orang (lihat Matius 4:23; 9:35). Orang banyak mengikuti-Nya dan Dia “menyembuhkan mereka semua” (Matius 12:15). Sungguh penyembuhan ini termasuk mereka yang memiliki penyakit emosi, mental, ataupun rohani. Dia menyembuhkan semuanya.

Dalam khotbah awal-Nya di rumah ibadat, Yesus membacakan dengan keras nubuat Yesaya berikut: “Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” (Lukas 4:18). Sewaktu Yesus menyatakan bahwa Dia datang untuk menggenapi nubuat itu, Dia secara khusus menegaskan bahwa Dia akan menyembuhkan mereka yang memiliki penyakit jasmani dan Dia juga akan membebaskan mereka yang tertawan, membebaskan mereka yang tertindas, dan menyembuhkan mereka yang patah hati.

Injil Lukas berisi banyak contoh tentang pelayanan tersebut. Injil Lukas menceritakan saat “orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka” (Lukas 5:15). Di lain kesempatan dicatat bahwa Yesus “menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit” (Lukas 7:21), dan bahwa Dia “menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan” (Lukas 9:11). Injil Lukas juga menjelaskan bagaimana orang banyak datang dari Yudea dan Yerusalem serta dari pantai Sidon ke tempat yang datar “untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan” (Lukas 6:17).

Ketika Juruselamat menampakkan diri kepada orang-orang yang saleh di Dunia Baru, Dia memanggil orang-orang untuk datang mendekat, mereka yang lumpuh atau buta atau memiliki penyakit fisik lainnya. Dia menyampaikan undangan yang sama kepada mereka “yang menderita apa saja” (3 Nefi 17:7). “Bawalah mereka ke mari,” firman-Nya, “Aku akan menyembuhkan mereka” (ayat 7). Kitab Mormon menceritakan bagaimana orang banyak maju ke depan “semua orang yang menderita apa saja” (ayat 9). Ini pastilah termasuk orang-orang yang memiliki penyakit jasmani atau emosi atau mental, dan tulisan suci bersaksi bahwa Yesus “menyembuhkan mereka, masing-masing” (ayat 9).

Juruselamat mengajarkan bahwa kita akan mengalami kesengsaraan di dunia ini, namun kita harus tabah karena Dia telah “mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33). Kurban Tebusan-Nya menjangkau dan cukup kuat tidak hanya untuk membayar harga bagi dosa, namun juga untuk menyembuhkan setiap kesengsaraan fana. Kitab Mormon mengajarkan bahwa: “Dia akan pergi mengalami segala macam penderitaan, kesengsaraan dan godaan, dan ini terjadi supaya firman dapat digenapi, yang mengatakan: Ia akan menanggung rasa sakit dan penyakit umat-Nya” (Alma 7:11; lihat juga 2 Nefi 9:21).

Dia mengetahui rasa sakit kita, dan Dia ada di sana bagi kita. Seperti Orang Samaria yang baik hati dalam perumpamaan-Nya, ketika Dia menemukan kita terluka di pinggir jalan, Dia membalut luka-luka kita dan merawat kita (lihat Lukas 10:34). Saudara-saudara, kuasa penyembuhan Kurban Tebusan-Nya diperuntukkan bagi Anda, bagi kita, bagi semua orang.

Kuasa penyembuhan Kurban Tebusan-Nya terdapat dalam syair yang penuh permohonan dari nyanyian rohani kita, “Tuhan, Badai S’dang Mengamuk”:

Tuhan, dalam dukacita,
‘Ku berlutut berdoa,
Kumohon, bangunlah,
Tuhanku, Selamatkan diriku.

Sarat d’ngan dosa dan duka,
Hapus dari jiwa,
Cepatlah, Kau tolong kami,
Tuhan, Kami hampir binasa!
(Nyanyian Rohani, no. 38).


Kita dapat disembuhkan melalui wewenang Imamat Melkisedek. Yesus memberikan kepada para Rasul-Nya kuasa “untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan” (Matius 10:1; lihat juga Markus 3:15; Lukas 9:1–2), dan mereka pergi “memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat” (Lukas 9:6; lihat juga Markus 6:13; Kisah Para Rasul 5:16). Tujuh Puluh juga diutus dengan kuasa serta arahan untuk menyembuhkan yang sakit (lihat Lukas 10:9; Kisah Para Rasul 8:6–7).

Meskipun Juruselamat dapat menyembuhkan siapa saja yang ingin Dia sembuhkan, tidak demikian dengan mereka yang memegang wewenang imamat-Nya. Penggunaan imamat itu oleh manusia fana dibatasi oleh kehendak Dia yang memiliki imamat itu. Oleh karena itu, kita diberi tahu bahwa beberapa orang yang diberkati oleh para penatua tidak sembuh karena mereka “ditetapkan untuk mati” (A&P 42:48). Demikian juga, ketika Rasul Paulus berusaha untuk disembuhkan dari “duri di dalam daging” yang merisaukannya (2 Korintus 12:7), Tuhan menolak untuk menyembuhkannya. Paulus kemudian menulis bahwa Tuhan menjelaskan, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (ayat 9). Paulus dengan patuh menanggapi bahwa dia akan “terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku … sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (ayat 9–10).

Berkat penyembuhan datang dalam banyak cara, masing-masing sesuai dengan kebutuhan pribadi kita, sebagaimana diketahui oleh Dia yang sangat mengasihi kita. Kadang-kadang “penyembuhan” mengobati penyakit kita atau mengangkat beban kita. Namun kadang-kadang kita “disembuhkan” dengan diberi kekuatan atau pengertian atau kesabaran untuk menanggung beban yang diberikan kepada kita.

Orang-orang yang mengikuti Alma berada dalam penawanan para penindas yang jahat. Ketika mereka berdoa memohon kelegaan, Tuhan memberi tahu mereka bahwa Dia akan membebaskan mereka pada akhirnya, namun untuk sementara waktu Dia akan meringankan beban mereka, “sehingga kamu bahkan tidak merasakannya di atas punggungmu, sekalipun kamu diperbudak, dan ini akan Aku lakukan agar kamu dapat berdiri sebagai para saksi bagi-Ku … bahwa Aku, Tuhan Allah, mengunjungi umat-Ku di dalam kesengsaraan mereka” (Mosia 24:14). Dalam hal ini beban orang-orang itu tidak diambil, tetapi Tuhan menguatkan mereka sehingga “mereka dapat menanggung beban mereka dengan mudah dan mereka menyerahkan diri dengan senang hati dan dengan sabar kepada segala kehendak Tuhan” (ayat 15).

Janji dan hasil yang sama ini berlaku bagi Anda para ibu yang sudah menjanda atau bercerai, bagi Anda para lajang yang kesepian, bagi Anda orang-orang yang peduli yang terbebani, bagi Anda orang-orang yang kecanduan, dan bagi Anda semua, apa pun beban kita, “Datanglah kepada Kristus,” nabi berkata, “dan jadilah sempurna di dalam Dia” (Moroni 10:32).

Kadang-kadang kita mungkin putus asa karena beban kita terlalu berat. Ketika seolah-olah badai sedang mengamuk dalam kehidupan kita, kita mungkin merasa ditinggalkan dan berseru seperti para murid dalam badai, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” (Markus 4:38). Di saat seperti itu kita hendaknya mengingat jawaban-Nya: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (ayat 40).

Kuasa penyembuhan Tuhan Yesus Kristus—baik itu mengangkat beban kita atau menguatkan kita untuk bertahan dan hidup dengan beban itu seperti Rasul Paulus—tersedia untuk setiap penderitaan dalam kefanaan.

Setelah saya memberikan sebuah ceramah konferensi umum mengenai kejahatan pornografi (lihat “Pornografi,” Liahona, Mei 2005, 87–90), saya menerima banyak surat dari orang-orang yang terbebani dengan kecanduan ini. Sejumlah surat berasal dari para pria yang telah mengatasi pornografi. Seorang pria menulis:

“Ada beberapa pelajaran yang saya petik dari pengalaman saya mengatasi dosa kecanduan itu yang sedemikian menguasai kehidupan orang-orang yang dijeratnya: (1) Ini adalah masalah pelik yang sangat sulit untuk diatasi .… (2) Sumber dukungan dan kekuatan yang paling penting dalam proses pertobatan adalah Juruselamat .… (3) Pembelajaran tulisan suci setiap hari serta mendalam, peribadatan bait suci yang rutin, dan peran serta yang sungguh-sungguh serta khidmat dalam tata cara sakramen semuanya merupakan bagian penting dari proses pertobatan yang benar. Saya pikir, ini karena semua kegiatan berfungsi untuk memperdalam dan menguatkan hubungan seseorang dengan Juruselamat, pemahaman seseorang terhadap kurban penebusan-Nya, dan iman seseorang dalam kuasa-Nya yang menyembuhkan” (surat tertanggal 24 Oktober 2005).

“Marilah kepada-Ku,” Juruselamat berfirman, “dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:28–29). Pria yang berbeban berat itu berpaling kepada Juruselamat, dan demikian juga kita masing-masing.

Seorang wanita yang pernikahannya terancam karena suaminya kecanduan pornografi menulis tentang bagaimana dia mendampinginya selama lima tahun yang sarat dengan rasa sakit sampai, sebagaimana dia mengatakannya, “melalui karunia Kurban Tebusan Juruselamat kita yang mulia dan berharga serta apa yang telah Dia ajarkan kepada saya mengenai pengampunan, [suami saya] akhirnya bebas—demikian juga saya.” Sebagai orang yang tidak membutuhkan pembersihan dari dosa, namun hanya mencari pembebasan bagi orang yang dikasihinya dari penawanan, dia menulis:

“Bersekutulah dengan Tuhan …. Dia adalah sahabat terbaik Anda! Dia mengetahui rasa sakit Anda karena Dia telah merasakannya bagi Anda. Dia siap menanggung beban itu. Percayalah kepada-Nya untuk meletakkan beban itu di kaki-Nya dan membiarkan Dia menanggungnya bagi Anda. Maka penderitaan Anda akan digantikan dengan damai sejahtera-Nya, di dalam hati sanubari kita” (surat tertanggal 18 April 2005).

Seorang pria menulis kepada seorang Pembesar Umum mengenai bagaimana kuasa Kurban Tebusan membantunya mengatasi masalah ketertarikan dengan sesama jenis. Dia telah dikeluarkan dari keanggotaan Gereja karena pelanggaran serius yang melanggar perjanjian bait sucinya dan tanggung jawabnya kepada anak-anaknya. Dia harus memilih apakah berusaha untuk menjalankan Injil atau terus berada di jalan yang bertentangan dengan ajaran-ajarannya.

“Saya tahu itu akan sulit,” dia menulis, “namun saya sadar apa yang akan saya alami.” Suratnya menjelaskan kehampaan dan kesepian, serta rasa sakit hebat yang dia alami di dalam sanubarinya sewaktu dia berusaha untuk kembali. Dia berdoa dengan sungguh-sungguh memohon pengampunan, kadang-kadang selama berjam-jam. Dia didukung oleh pembacaan tulisan suci, oleh penemanan seorang uskup yang penuh kasih, dan oleh berkat keimamatan. Namun apa yang akhirnya membuat perbedaan adalah bantuan dari Juruselamat, Dia menjelaskan:

“[Hanya] melalui Dia dan Kurban Tebusan-Nyalah .… Sekarang saya merasakan rasa syukur yang besar. Kadang-kadang rasa sakit saya melebihi yang dapat saya tanggung, tetapi rasa sakit itu tidak seberapa dibandingkan dengan apa yang telah Dia alami. Dahulu kegelapan menyelimuti hidup saya, kini kasih dan rasa syukurlah yang saya rasakan.”

Dia melanjutkan: “Beberapa orang mengaku bahwa perubahan itu mungkin dan terapi adalah satu-satunya jawaban. Mereka sangat memahami hal itu dan memiliki begitu banyak yang dapat ditawarkan kepada mereka yang bergumul …, namun saya khawatir bahwa mereka lupa untuk melibatkan Bapa Surgawi dalam proses itu. Jika perubahan terjadi, itu akan terjadi menurut kehendak Allah. Saya juga khawatir bahwa banyak orang berfokus pada penyebab dari [ketertarikan dengan sesama jenis] .… Tidak ada gunanya menyimpulkan mengapa saya menghadapi [tantangan ini]. Saya tidak tahu jika saya dilahirkan dengan tantangan ini, atau jika faktor-faktor lingkungan mendukung hal ini. Kenyataannya adalah bahwa saya menghadapi pergumulan ini dalam kehidupan saya dan apa yang saya lakukan terhadap hal ini mulai saat ini dan seterusnya adalah yang terpenting” (surat tertanggal 25 Maret 2006).

Orang yang menulis surat ini mengetahui bahwa Kurban Tebusan Yesus Kristus dan “penyembuhan” menawarkan lebih banyak daripada menyediakan kesempatan bagi pertobatan dari dosa. Kurban Tebusan juga memberi kita kekuatan untuk menahan “segala macam penderitaan, kesengsaraan dan godaan,” karena Juruselamat kita juga menanggung bagi diri-Nya “rasa sakit dan penyakit umat-Nya” (Alma 7:11). Saudara-saudara, jika iman dan doa Anda serta kuasa imamat tidak menyembuhkan Anda dari suatu penyakit, kuasa Kurban Tebusan pastilah akan memberi Anda kekuatan untuk menanggung beban.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat,” Juruselamat berfirman, “Aku akan memberi kelegaan … kepada jiwa- jiwamu” (Matius 11:28–29).

Sewaktu kita berjuang menghadapi tantangan kefanaan, saya berdoa bagi kita masing-masing, sebagaimana Nabi Mormon berdoa bagi putranya, Moroni, “Semoga Kristus mengangkat engkau dan semoga penderitaan dan kematian-Nya, … dan belas kasihan serta panjang sabar-Nya dan harapan akan kemurahan-Nya dan akan kehidupan kekal, tetap berada dalam ingatanmu untuk selama-lamanya” (Moroni 9:25).

Saya bersaksi tentang Yesus Kristus, Juruselamat kita, yang mengundang kita semua untuk datang kepada-Nya dan dijadikan sempurna di dalam Dia. Dia akan membalut luka-luka kita dan Dia akan meringankan beban berat kita. Dalam nama Yesus Kristus, amin.

Penatua Dallin H. Oaks
Dari Kuorum Dua Belas Rasul

Free Ebook Terhilang Di Rumah Bapa


Berikut apa kata mereka yang sudah membaca E-book ini:

“Bagi saya, tidak ada yang lebih mulia daripada menjadi diri sendiri yang terbaik, sebagaimana Tuhan kehendaki sejak awal mulanya. Dan bagi saya sendiri, menjadi “pemberi” alias “pelayan” sesama jauh lebih mulia daripada “penerima” alias “pengambil.” Keimanan seseorang tidak ditentukan oleh permintaan-permintaan kasat mata yang dikabulkanNya, namun bagaimana ia mampu menjadi garam bagi dunia. Ebook renungan ini niscaya akan membangkitkan diri dan menebalkan iman dengan cara yang sejuk dan damai.”

~ Jennie S. Bev, penulis dan kolumnis dwibahasa berbasis di Kalifornia. Ia bisa dijumpai di JennieForIndonesia.com.

“Awesome stuff. Baca renungan ini tidak seperti membaca buku, tapi kita sedang membaca hidup masing-masing penulisnya. Saya merekomendasikan sepenuhnya untuk bukan saja hanya membaca tapi juga merenungkan kehidupan iman kita sendiri. Semoga makin banyak yang bisa mengkontribusikan hidup mereka untuk edisi kedua.”

~ Kepik Biru, admin forum diskusi Kristen AkuPercaya.Com

“Menarik, karena setiap penulis menuangkan renungan dengan ciri mereka sendiri, sesuai dengan background, pengalaman hidup, refleksi & pengetahuan mereka. Sederhana, apa adanya, cerdas, mengugah & jujur. Membaca renungan ini menyadarkan saya kalau saya tidak sendiri & memacu untuk tetap berkarya dengan kejujuran.”

~ LieL, moderator forum True-Worshippers.Com

Download This Ebook

Hamba Yang Rendah Hati


Banyak diantara kita yang mengaku hamba Tuhan, mungkin karena memang sudah terlibat dalam berbagai kegiatan dan pelayanan di gereja. Namun sering kali didalam praktek kenyataannya banyak diantara kita belum menunjukkan citra seorang hamba Tuhan. Sehingga kita berbenturan dengan teman sepelayanan atau menjadi sandungan bagi umat atau sesama manusia. Sehingga Paulus menuliskan didalam suratnya untuk syarat seorang pelayan jemaat/ penilik jemaat ada persyaratannya. Hal ini dibuat supaya menghindarkan benturan-benturan yang tidak diinginkan.

Karakter seseorang memang berbeda satu dengan yang lainnya, Tuhan tahu itu. Tetapi bukanlah kita tidak dapat dipersatukan meskipun memiliki karakter yang berbeda. Kunci untuk kita sesama hamba Tuhan dapat bersatu adalah “KERENDAHAN HATI”. Inilah yang harus dimiliki dan dipertahankan oleh seorang hamba Tuhan. Tuhan Yesus telah menjadi teladan bagi kita dalam hal kerendahan hati.

Filipi 2:1-11 .

Siapakah kita ini sehingga kita menganggap kalau kita yang menjadikan pelayanan boleh berhasil? Mari kita bertobat kalau kita merasa orang yang paling berjasa atau dipentingkan dalam pelayanan.

Ketahuilah bahwa suatu anugerah jika kita boleh melayani pekerjaanNya. Tuhan Yesus berkata di dalam Yohanes 15:16-17, kita dipilih olehNya untuk menghasilkan buah dan saling mengasihi. Terkadang kita terlalu sibuk untuk mencari perhatian dan pujian serta harga diri. Oleh karena nilai-nilai inilah seorang hamba Tuhan kehilangan citra sebagai hamba Tuhan.

Apa kata Tuhan Yesus tentang hamba? Lukas 17: 7-10. Seorang hamba yang dilukiskan dalam ayat ini sepertinya tidak punya hak apa-apa untuk menuntut. Meskipun pelayanan kita tidak ada yang melihat, tidak ada nama kita disebut-sebut. Tidak ada yang berterima kasih kepada kita, tidak ada imbalan/uang dalam tugas yang dijalankan. Atau masih dipersalahkan meskipun kita sudah lakukan hal yang terbaik? Kurang atau bahkan tidak diperhatikan pemimpin kita padahal sudah menjalankan perintahnya? Apakah kita tetap menerima semuanya itu dengan ucapan syukur?

Tuhan Yesus memutuskan untuk memilih setia dan taat, bahkan taat sampai dikayu salib, menanggung yang semestinya kita tanggung. Namun Dia tahu, kita tidak mungkin kuat menanggungnya sehingga dengan kerendahan hati Dia tanggung semuanya dosa kita.

KERENDAHAN HATI adalah suatu hati yang rela ditegur, rela dinasehati, rela menerima masukan untuk membangun, rela dikoreksi, rela dibogkar dengan cara Tuhan dan melalui orang yang Tuhan tentukan, dimana semuanya itu untuk mengubahkan kita.

Terkadang Tuhan ijinkan orang-orang tertentu dipakai untuk membentuk kita sehingga menjadi hamba Tuhan yang sesuai firmanNya. Rasanya memang sakit, dikikis dan dibersihkan supaya kita lebih lagi dalam berbuah, untuk itulah kita dipanggil. Yohanes 15:2.

Sudahkah kita miliki hati hamba? Apakah kita iklas untuk dibentuk Tuhan sehingga kita memiliki hati seorang hamba?. Roma 8:28.

Memuji & Menyembah


Mazmur 22 : 26

Karena Engkau aku memuji – muji dalam jemaat yang besar…

Saya percaya tidak seorang yang tidak stress pada masa krisis global sekarang ini, tetapi orang yang memiliki kekuatan menghadapi kesulitan dan yang tidak memiliki kekuatan itu, memiliki perbedaan yang sangat besar untuk bertahan. Saya pernah melihat orang yang stress berat ketika menghadapi persoalan berat sampai harus nenggak pil sanax berulang kali dalam sehari.. Saya juga pernah melihat orang yang sama sekali tidak terlihat stress ketika menghadapi persoalan yang sangat berat juga. Yang pertama, memang tidak mencari Tuhan dan yang kedua, dia tekun mencari wajah Tuhan. Dan orang kedua inilah yang keluar sebagai pemenang dalam kehidupannya, bukan yang nenggak pil penenang tadi. Mau tahu rahasianya? Memuji dan menyembah Tuhan.

Memuji dan menyembah Tuhan membawa kita menyadari 3 hal : pertama, bahwa ada Seseorang yang jauh lebih kuat dari kita dan kita merasa nyaman dan aman dengan kehadiranNya.. kedua, membuat kita mengenal Dia dan dengan hati terbuka, rela mengembalikan segala kemuliaan dan hormat hanya bagiNya.. ketiga, memampukan kita mengakses kekuatan dan kuasaNya untuk menaklukkan musuh kita, permasalahan kita dan meraih kemenangan dalam dunia ini.

Kekuatan dan Kuasa Allah yang hanya bisa diakses di dalam Ruang Maha KudusNya itulah yang akan membukakan jalan keluar dan terobosan atas semua permasalahan hidup kita. Selain itu, menyembah Allah membuat kita kehilangan beban atas permasalahan kita sekalipun masalah itu masih ada, tetapi hati kita tidak kuatir lagi karena semua beban itu telah diserahken ke dalam tangan yang Maha Kudus, yang terpercaya. Kita juga bisa mendengar suaraNya yang akan menuntun kita untuk melakukan langkah – langkah terbaik agar bisa keluar dari masalah kita. Tuhan ada di tempat yang Maha Tinggi, solusi 360 derajatNyalah yang mampu menolong kita keluar dari krisis seberat apapun. Dia lebih besar dari krisis yang kita hadapi.

Jadi, di dalam penyembahan, kita bisa mengakses kuasa Allah yang tidak terbatas untuk memberi kekuatan kepada kita, kita bisa melepaskan semua kekuatiran kita supaya tidak membebani hati kita lagi dan yang sangat penting, kita bisa mendapat langkah – langkah atau solusi terbaik yang hanya bisa diberikan oleh Tuhan, sang Pencipta dan Pemelihara. Marilah kita menyembah Dia.

Written by Michael

Humor Gereja

SAKIT KEPALA

Bapak Pendeta mengunjungi seorang wanita yang menderita sakit kepala yang parah. Selama berjam-jam ia bercerita sambil mengeluh, menangis dan meratap mengenai keadaannya yang memelas, tanpa memberi kesempatan sedikit pun pada Bapak Pendeta untuk berbicara.

Tiba-tiba, ia berteriak kegirangan, "Puji Tuhan! Bapak Pendeta, sakit kepala saya sudah hilang!"

Bapak Pendeta menyahut, "Tidak Bu, sakit kepalanya belum hilang. Sekarang saya yang memilikinya."

"Apakah orang yang banyak bicara tidak harus dijawab? Apakah orang yang banyak mulut harus dibenarkan? (Ayub 11:2)


Sang Gembala

Image Hosted by UploadHouse.com

Dua orang teman lama, Peter dan Joshua, yang dulu sama-sama belajar di satu sekolah teologia bertemu. Mereka sangat senang dan ngobrol sana- sini, sampai akhirnya mereka membicarakan pelayanan masing-masing.

Peter
:
Bagaimana kabar pelayananmu? Kudengar gereja yang kau gembalakan mengalami pertumbuhan pesat dan sangat diberkati Tuhan.
Joshua
:
Ya begitulah..... jemaat saya yang mula-mula hanya 100 orang, kini sudah menjadi 700 orang dalam satu tahun.
Peter
:
Wah.... hebat ! Selamat ya.....
Joshua
:
Puji Tuhan, semua hanya karena Tuhan saja. Pelayananmu sendiri bagaimana? Sudah berapa jemaat yang kau gembalakan?
Peter
:
Saya selalu berdoa pada Tuhan supaya jemaat saya semakin sedikit bahkan habis.
Joshua : Lho!!! Kok?
Peter
:
Iya bener, soalnya sejak 2 tahun lalu saya ditugasnya untuk melayani di LP.
Joshua
:
Oh ....

/Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku* (Yohanes 10:14)


Bahaya Minuman Keras

Image Hosted by UploadHouse.com

Karena banyak jemaatnya yang suka meminum minuman keras, suatu hari Pak Pendeta bercerita tentang bahaya meminum minuman keras. Ia bercerita tentang seorang peminum yang telah bertahun-tahun menjadi pecandu minuman keras. Pada suatu hari ia bermaksud mematikan lilin yang sedang menyala. Ditiupnya lilin itu dan karena mulutnya berbau alkohol, api menyambar ke mulutnya dan dalam waktu singkat ia mati terbakar.

"Bapak Pendeta, cerita tadi benar MENYADARKAN saya," kata salah seorang jemaat selesai kebaktian.

"Oh jadi Anda seorang peminum minuman keras dan mulai hari ini SADAR untuk tidak minum lagi?"

"Bukan! Saya jadi sadar kalau tiup lilin itu berbahaya!"

Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, (Efesus 5:18)


Antara Aku, Tuhanku & Istriku

Seorang lelaki berdoa: "Oh Tuhan, saya tidak terima. Saya bekerja begitu keras di kantor, sementara istri saya enak-enakan di rumah. Saya ingin memberinyapelajaran, tolonglah ubahlah saya menjadi istri dan ia menjadi suami."

Tuhan merasa simpati dan mengabulkan doanya. Keesokan paginya, lelaki yang telah berubah wujud menjadi istri tersebut, terbangun dan cepat-cepat ke dapurmenyiapkan sarapan. Kemudian membangunkan kedua anaknya untuk bersiap-siap ke sekolah.

Kemudian ia mengumpulkan dan memasukkan baju-baju kotor ke dalam mesin cuci. Setelah suami dan anak pertamanya berangkat, ia mengantar anaknya yang kecil ke sekolah taman kanak-kanak.

Pulang dari sekolah TK, ia mampir ke pasar untuk belanja. Sesampainya di rumah, setelah menolong anaknya ganti baju, ia menjemur pakaian dan kemudian memasak untuk makan siang.

Selesai memasak, ia mencuci piring-piring bekas makan pagi dan peralatan yang telah dipakai memasak. Begitu anaknya yang pertama pulang, ia makan siang bersama kedua anaknya.

Tiba-tiba ia teringat ini hari terakhir membayar listrik dan telepon. Disuruhnya kedua anaknya untuk tidur siang dan cepat-cepat ia pergi ke bank terdekat untuk membayar tagihan tersebut.

Pulang dari bank ia menyetrika baju sambil nonton televisi. Sore harinya ia menyiram tanaman di halaman, kemudian memandikan anak-anak. Setelah itu membantu mereka belajar dan mengerjakan PR. Jam sembilan malam ia sangat kelelahan dan tidur terlelap. Tentu masih ada'pekerjaan- pekerjaan kecil lainnya' yang harus dikerjakan.

Dua hari menjalani peran sebagai istri ia tak tahan lagi. Sekali lagi ia berdoa, "Ya Tuhan, ampuni aku. Ternyata aku salah. Aku tak kuat lagi menjalani peran sebagai istri. Tolong kembalikan aku menjadi suami lagi."

Tuhan menjawab:
"Bisa saja. Tapi kamu harus menunggu sembilan bulan, karena saat ini kamu sedang hamil."

Yang senyum, Tuhan Berkati... ^_^